Area Cikini, Jakarta Pusat, menyimpan sejumlah kuliner legendaris yang bisa ditelusuri dengan berjalan kaki dari stasiun kereta api Cikini atau Gondangdia.
Salah satu deretan yeng perlu disambangi adalah Gado-Gado Bon-Bin, nama makanan dan tempat yang terasa ber-rima dan menjadi jenama yang ternama.
Saat mengunjunginya, di jalan Cikini IV No.5, Menteng, Jakarta Pusat, kami memilih waktu selepas jam makan siang. Dengan perhitungan supaya saat duduk lebih leluasa, sekaligus bisa berbincang dengan empunya tempat.
Ruangannya tidak terlalu besar, suasana rumahannya terasa, dengan penyejuk udara yang membuat langsung terasa nyaman saat memasukinya.
Prediksi kami tepat, ruangan terasa lebih leluasa usai jam sibuk. Disambut oleh beberapa punggawa keluarga Wijaya; keturunan Ibu Lanny Wijaya, yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Rata-rata usia mereka sudah senior, dan kini, Gado-Gado Bon-Bin dijalankan oleh generasi keduanya sebagai usaha keluarga, setalah dirintis oleh pendahulunya, Ibu Lanny Wijaya.
Ketika membuka pintu, terpampang bungkusan kerupuk dalam kemasan plastik yang bisa dipilih untuk menemani makan, di sebelahnya juga tersedia semacam oleh-oleh yang bisa dibeli dan dibawa pulang.
Saat ke sini, tentu saja kami ingin memesan gado-gadonya. Ini adalah menu utama yang perlu dicoba. Meskipun ada pula pilihan lain yang juga layak disantap; ada mie ayam, mie bakso, mie pangsit, ayam goreng kampung, hingga lontong Cap Go Meh.
Saat gado-gado pesanan kami datang, pertama yang mencuri perhatian adalah kerupuk udang utuh yang menutupi hampir separuh piring.
Sepiring gado-gado yang tersaji; terdiri dari irisan lontong, potongan kol, bayam rebus, irisan tahu, jumputan tauge, dan telur rebus. Untuk kemudian disiram dengan saus kacang yang terlihat pekat, tidak ketinggalan taburan emping, sebagai pugasannya.
Ketika mencoba menyendokkan ke dalam mulut, bumbu kacangnya terasa berbeda. Teksturnya halus sekaligus kental. Pilihan menggunakan kacang mede yang dipakai sebagai saus gado-gado, yang disiram dengan royal, membawa sensasi gabungan rasa gurih, manis dan asam. Dan puncaknya, saat ditaburi sambal. Elemen-elemen rasa tadi, seperti saling bersahutan di dalam mulut.
Saat kunyahan tadi selesai dengan sekian gigitan dan masuk ke dalam kerongkongan, terasa lebih kontras dengan dorongan manis dan dingin dari es cincau hitam, yang tidak lupa kami pesan.
Melakukan kegiatan tadi secara simultan, tidak terasa, beberapa titik kecil keringat muncul di dahi, dan menyekanya, seperti menjadi bagian laku ekspresi kenikmatan.
Yang juga menarik, adalah bagaimana tekstur lontongnya yang saat dikunyah memberikan sensasi agak kenyal, yang memerlukan sekian gigitan untuk menghaluskannya, sebelum kemudian diantar menuju tenggorokan.
Hal itu, karena pembuatan lontong untuk bahan gado-gadonya, diniatkan dengan dibuat dalam waktu yang tidak instan, bisa memerlukan waktu lebih dari lima jam. Selain juga soal beras kualitas bagus yang mutlak diperhatikan.
Gado-Gado Bon-Bin memakai daun pisang khusus untuk membungkus lontongnya. Dan harus memakai daun pisang batu, supaya lontong yang dihasilkan bisa solid, dan tekstur tidak pecah.
Kami juga berbincang dengan Pak Hadi Wijaya (71 tahun), yang masih tampak segar bugar dan senang berbagi cerita, sebagai generasi kedua Gado-Gado Bon-Bin, dia bercerita di balik perjalanan puluhan tahun bisnis kuliner keluarganya.
Soal pilihan campuran kacang dalam gado-gado yang prosesnya tidak dengan digoreng, dan dicampurkan dengan bumbu khusus yang menghasilkan rasa yang khas, yang hanya dimiliki oleh Gado-Gado Bon-Bin.
Pak Hadi kemudian menerawang saat menceritakan dulu ketika tahun 80-an, lahan usahanya terancam digusur. Sedikit menghela napas, dia menganalogikan, jika pemerintah tentu akan gampang saat membutuhkan lahan untuk keperluannya.
Tidak selesai di situ, saat waktu bergulir di tahun 98-an, Pak Hadi sedikit menurunkan volume suaranya, entah apa pertimbangannya, kata-katanya kemudian menjadi pelan, dan pilihan kalimatnya seperti dipikirkan matang untuk diucapkan.
Hingga yang ke luar dari mulutnya adalah tentang harga bahan baku kacang tanah untuk gado-gado olahannya. Di masa krisis yang disertai kerusuhan rasial itu, kacang tanah, yang tadinya harga sekilo Rp2.500, melonjak tinggi menjadi Rp15.000, perkilonya.
Namun cerita itu cepat-cepat dia pungkasi. Saat kemudian sumringah dari wajahnya hadir, dia akan merasa senang, kalau tamu-tamu yang sudah berlangganan lama masih datang kembali dan kemudian bernostalgia bersama anak cucunya.
Jika ingin datang ke sini, Gado-Gado Bon-Bin mulai buka dari pukul 10.00 pagi sampai 17.00 sore. Di dalamnya cukup menampung pengunjung dengan kapasitas sekitar 50 orang. Soal harga, sebagai referensi, saat memesan gado-gado dan es cincau hitam, kami merogoh kocek Rp 66.000,-
Mari makan, rasakan, dengarkan, dan ceritakan.