Narasi

Jejak Sajak Sitor Situmorang & Tafsiran Rasa dari Jesika Situmorang

Jejak Sajak Sitor Situmorang & Tafsiran Rasa dari Jesika Situmorang

 

Penulis: Husni Efendi 

Siang itu di Balai Budaya, jalan Gereja Theresia no 47 Menteng Jakarta, Jesika Rumenda Situmorang, sedang khusyuk menyampaikan pemikiran dan gagasan yang dia kawinkan dari dua senyawa: puisi dan masakan.

Sebelum datang, saya membatin, jika biasanya karya sastra, semisal puisi, dipadukan dengan musik tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun ini cukup unik, setidaknya untuk saya sendiri, saat olahan masakan berkelindan dengan deretan sajak puisi dari salah seorang sastrawan legendaris: Sitor Situmorang.

Mendengar nama besar Sitor, selain lekat dengan label sastrawan, dia juga jurnalis dan intelektual yang pernah mendekam di penjara rezim Orde Baru. Dia banyak menulis lintas genre, dan salah satu yang fenomenal, saat dia menulis naskah film Darah dan Doa (1950), yang kemudian dikenal menjadi tonggak film nasional.

Jesika, seorang teman, yang belakangan saya baru tahu, jika dia ternyata adalah cucu dari sosok Sitor Situmorang tersebut. Saat dia mengundang untuk menafsir puisi-puisi kakeknya, lengkap dengan medium kuliner yang akan dia olah dan kreasikan, tentu seperti merasa sayang jika melewatkan.

Siang itu Jesika menyuguhkan empat hidangan yang coba dia intepretasikan, dengan berangkat dari beberapa puisi opungnya. Empat menu, empat puisi, dan empat perenungan. Secara teknis, Jesika memanifestasikan dalam nampan satu appetizer, dua main course, dan satu dessert.

 

Puisi Penegasan dalam Genggaman Salad Kacang Merah

“tidak semua dilahirkan jadi pahlawan

tapi semua kita dilahirkan jadi penyair..”

-Penegasan, Sitor Situmorang 1953-

Salah satu peserta membacakan puisi tersebut secara utuh dari lembaran poster kecil yang dibagikan, berlogo 100 tahun Sitor Situmorang di sudut bagian sebelah kanan. Puisi tersebut ditulis Sitor di tahun 50-an, yang kemudian pertama kali terbit dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul “Surat Kertas Hijau”

Saat salah satu dari peserta membacakan puisi dengan nada suara yang pelan, panitia kemudian menyuguhkan apa yang sudah Jesika masak dan persiapkan. Sebuah hidangan pembuka beralas mangkuk kecil dan berisikan salad yang bersahaja, degan isian: kacang merah, jagung rebus, dan irisan tomat hijau, dengan ditemani taburan daun ketumbar.

Saya membaca puisi tersebut dengan perlahan dalam hati, sementara Jesika kemudian bercerita apa kaitan salad kacang tersebut dengan puisi penegasan.

Entah kenapa salad kacang merah ini bagiku seperti sebuah penegasan” ungkapnya.

Saat saya membaca puisi itu, bahwa tidak semua akan dilahirkan menjadi pahlawan, tapi semua kita dilahirkan jadi penyair—perasaan saya campur aduk, setidaknya saat melihat berita demonstrasi besar-besaran akhir Agustus kemarin. Ada rasa marah, ada rasa tidak berdaya terhadap keadaan negara, tapi aku harus berbuat sesuatu.”

Jesika melanjutkan penjelasannya dengan mengungkapkan beberapa keresahan, kemarahan, sekaligus membalurnya dengan harapan. Lantas dengan perlahan dia coba wakilkan semua hal tersebut melalui  pengejawantahan dalam campuran bumbu yang sederhana namun terasa tegas di lidah: minyak yang dicampurkan dengan ulekan kasar bawang putih bercampur aroma lada hitam yang kuat. Di ujungnya, lantas ditambah dengan pungkasan kaldu jamur yang seperti menjadi perantara dari dua kutub yang kuat di antara bawang putih dan lada hitam tersebut.

“Saya memilih salad kacang,” ungkap Jesika, “karena saya harus mulai dari apa yang saya punya, yang mudah saya temukan di pasar dekat rumah.”

Dan terciptalah salad kacang merah yang terhidang di meja, layaknya seperti sebuah afirmasi:

“Saya bisa memulai. Sekarang.”

 

Peneguhan Ketidakpastian Dalam Bungkusan Arem-arem

“Ketidakpastian ialah keberanian manusia yang tak memerlukan sejarah..

Ketidakpastian ialah hidup yang tak dijadikan rumah”

-Ketidakpastian, Sitor Situmorang (1950-an)-

Hidangan berikutnya, Jesika menyuguhkan arem-arem. Namun, dia membuatnya bukan yang berbentuk lonjong layaknya lontong yang biasa ditemukan di warung atau di kedai pusat jajanan pasar, melainkan berbentuk piramida.

Sekilas, sebelumnya saya malah menebaknya sebagai kue nagasari. Tampilan arem-arem yang malah terlihat unik, karena seperti sedang melawan pakem dari fitrah umumnya arem-arem.

Soal bentuk yang berbeda tersebut, seperti menjadi respon logisnya terhadap petikan sajak berjudul  Ketidakpastian di atas.

Setelah membuka lembaran daun pisang penutupnya, dan mendapati bahwa isiannya mengecoh dari jalur maisntream arem-arem. Aroma khasnya masih tersimpan di dinding-dinding pembungkus daun pisangnya, dan menyelimutinya dengan sempurna tanpa berongga dari isian padatan nasi pulen bersantan.

Selebihnya, tentu sudah bisa diduga ketika gigitan pertama: di dalamnya tersembunyi isian tumisan kentang dan wortel. Isiannya berwarna semu kemerahan dan jingga hasil dari campuran cabai yang sudah berbaur.

Jika di awal dari bungkusannya kita seperti diajak berdialog dengan ketidakpastian, saat sudah menyelami dalamannya, entah kenapa warna jingga tadi malah seperti menjadi jawaban atas ketidakpastian itu sendiri. Warna yang seperti identik dengan senja, sebagai sebuah penutup ketidakpastian manusia dalam satu hari yang dia jalani.

Apa yang saya bicarakan dalam hati itu, Jesika seperti mampu mendengarnya, untuk kemudian dia tarik lagi konteks ketidakpastian dari sajak kakeknya tersebut dalam keadaan yang lebih konkrit:

“Salah satu caraku menghadapi ketidakpastian adalah dengan memastikan selalu sarapan. Dan sarapan arem-arem ini selalu setia menemaniku di waktu sekolah dulu”

Jesika kemudian melanjutkan rumusan tentang arem-aremnya. Ia mengenalnya sudah lama, namun terasa akrab sejak SMP sejak ditawarkan dari sebuah kantin sekolah. Bungkusan genggaman nasi santan dengan rasa sedikit manis, isian kentang-wortel dengan campuran rasa asin gurihnya itu cukup membantu menemaninya hingga bel istirahat siang.

Selain mengintepretasi ketidakpastian dari larik puisi kakeknya dengan perantara arem-arem, alasan pragmatis lainnya, menurutnya, karena dia sering kecewa dengan kualitas arem-arem yang acak dia dapatkan di luaran.

Setidaknya, saya bisa setuju satu hal dengan Jesika, bahwa arem-arem yang dia tawarkan itu memang membawa ketidakpastian. Maksudnya, entah butuh berapa banyak saya bisa melahap arem-arem itu hingga cukup merasa kenyang.

 

Di Lembah Swat (Pakistan Utara): Ayam Karahi dalam Balutan Tepung Singkong

“berpedoman peta hati kukunjungi stupa-stupa,

puing-puing istana dan biara..

tak bergerak

disihir suara alam

membahana sepi”

-Di Lembah Swat (Pakistan Utara), Sitor Situmorang (1990-an)-

Puisi yang tampak sebagai laporan pandangan mata itu ditulis Sitor saat dia tinggal di Pakistan mengikuti tugas istrinya, Barbara Brower, yang seorang diplomat.

Jesika lantas menangkap soal kekhasan santapan yang ada di daerah tersebut. Kemudian disajikannya menjadi hidangan utama bertajuk Ayam Karahi. Jenis hidangan apakah itu gerangan?

Dengan telaten dia kemudian menuturkan, bahwa makanan tersebut berasal dari Pakistan, juga alasan utamanya kenapa dia memilihnya untuk dieksekusi. Sekaligus, hal yang membuat menu tersebut cukup berbeda, misal dari sajian India atau Afghanistan, –yang disinyalir masih dianggap serumpun: adalah di letak bumbu dasarnya. Karahi tidak memerlukan bawang bombay. Bumbu dasarnya bisa dibilang cukup ringkas: tomat, bawang putih, dan jahe.

Jika terus ditelusuri lagi, sajian karahi ini sebenarnya berasal dari provinsi Khyber Pakhtunkhwa, daerah utara di Pakistan. Dan relasi kuat dengan puisi kakeknya tersebut menemukan titik singgungnya, bahwa lembah Swat itu berada di provinsi tersebut.

Uniknya lagi, Jesika mengungkapkannya sembari tertawa, dia memasak ayam karahi itu prosesnya bisa dibilang berbeda dan terbalik dengan beberapa menu sebelumnya. Awalnya dia ingin ada menu Karahi, lantas baru mencari puisi yang cocok. Voila, ia menemukan puisi yang pas: Di Lembah SWAT, tentang kekaguman akan alam Pakistan Utara yang dipinjam dari pengalaman mata opungnya, dan menjadi berjodoh dengan hidangan yang dimasaknya kemudian.

Saat mencoba mengunyahnya, ayam karahi buatan Jesika ini terasa hangat di rongga mulut yang tentu berasal dari campuran jahe, namun sekaligus juga diimbangi dengan sumir asam dari rasa tomat. Untuk bahan penyelimutnya, Jesika sengaja menggubah roti naan: sejenis roti pipih beragi yang terbuat dari tepung terigu atau gandum dan sering kali menghadirkan bintik-bintik cokelat keemasan dari proses pemanggangannya. Jesika ubah bahan dasar roti naan itu dengan bahan yang lebih membumi dan lokal: tepung singkong.

Jesika sepertinya tidak semata ingin meromantisir soal lokalitasnya saja, ia menjelaskan dengan terstruktur kenapa itu dilakukan. Naan yang dibuat dengan pancake tepung singkong itu teksturnya lebih lentur, dan penjelasan logisnya kemudian beralasan: lebih menyerap kuah kari dengan optimal seperti yang ia inginkan.

 

Sajak Cinta dalam Dadar Gulung Beraroma Teh Tubruk Melati

Keluasan laut

Menyesak dada

Nafas terpaut

Pada rasa seluas maut

-Cinta, Sitor Situmorang (tahun penulisan tidak diketahui)-

Hidangan dadar gulung ini menjadi menu penutup yang Jesika padukan dengan puisi berjudul Cinta dari Sitor. Ada “laut” dan “maut” yang digunakan Sitor untuk merepresentasikan soal misteri cinta dan takdir. Saya tidak tahu seberapa dalam, atau bahkan mungkin seberapa tidak menghiraukannya sosok harimau tua itu pada keyakinan soal takdir.

Setidak menghiraukan itu juga, ketika saya melihat bentukan dadar gulung yang Jesika tawarkan, sama seperti arem-arem sebelumnya, dia masih mencoba untuk terus menggeser pakem. Ketika biasanya “gulung” menjadi satu paket dengan “si dadar,” Jesika lantas coba pisahkan frasa itu menjadi makna baru: “dadar lipat.”

Namun sepertinya saya tidak mempunyai kapasitas untuk menginterupsi soal itu, bahkan sekalipun untuk mengajukan revisi: kenapa tidak sekalian disebut sebagai dadar lipat saja?

Karena ada hal yang jauh lebih penting, Jesika mengajukan hal yang lebih substansial, bahwa hidangan tersebut merupakan adaptasi dari kudapan Belanda. Pannenkoeken: konon itu pelafalan dari bahasa Belanda sebagai penyebutannya. Proses menjadi dadar gulung itu pada masanya lantas mengalami keterbatasan bahan bagi para bumiputera. Sehingga kemudian masyarakat kita menggunakan tepung beras dan santan sebagai alternatif adaonan kudapannya.

Jesika memadukan dadar gulung atau dadar lipatnya itu dengan perpaduan yang juga tidak biasa. Ia mencampurkan teh tubruk aroma melati yang awalnya sudah dibuat biang manisnya dengan gula batu, ke dalam campuran fla susu.

Sehingga, saat menyecapnya, rasa fla yang hadir di lidah seperti tidak kentara sebagai teh tubruk biasa. Bahkan jika Jesika tidak menyebutkan ada campuran teh tubruk dalam adonan tersebut pun, saya tidak akan mengetahuinya.

Sementara di bagian lainnya terasa ada sodokan kecil kenari yang meresap namun tidak begitu dominan. Dadar gulung atau dadar lipat itu seperti perwujudan ekspresi rasa cinta yang tidak berlebihan. Dengan pengukuhan rasa manis yang subtil. Layaknya ekspresi kakeknya kepada dirinya sebagai seorang cucu, yang menurut Jesika, opung Sitor bukan layaknya kakek pada umumnya, misal dengan akrab memangku cucunya sambil mendongengkan cerita. Sitor Situmorang bukanlah tipe kakek yang demikian.

Selesai melahap semuanya lengkap dengan cerita-cerita di baliknya, kami banyak berbincang soal jalan hidup Sitor dan kenangan-kenangan yang melekat di benak Jesika. Sosok kakeknya itu, baginya adalah perwujudan dari kesederhanaan, yang saking sederhananya, bahkan entah lupa atau sengaja tidak mengambil haknya: gaji bulanan sekian lama saat masih mengajar di Leiden.

Sementara, Jesika sendiri seperti menemukan renjana yang sama dengan kakeknya dalam berkarya. Jika Sitor bisa berkhidmat dalam menulis, Jesika bisa berbahagia dengan memasak. Hal yang dipungkasinya dengan tertawa:

“Aku sebagai orang Batak bahkan mungkin seperti ambigu, steorotip yang biasanya disandangkan: orang Batak bisa bermain musik dan menyanyi. Aku tidak mahir dengan itu. Tapi aku lebih percaya diri dengan memasak, hahaha..”  

***

Post Comment