Penulis: @husni.efendi
Bagi Aurelia Vizal, hidup bisa diringkas dalam semangkuk mie ayam. Jika hanya boleh makan satu makanan sepanjang hayat, jawaban dia sama: mie ayam. Ia tidak sibuk mencari yang terenak, sebab baginya hampir semua mie ayam itu enak. Justru ia mendedikasikan diri untuk pencarian yang unik, menemukan mie ayam yang tidak enak.
Bahkan saat saya mencoba mereplikasi permainan Anthony Bourdain dalam salah satu bagian di “A Cooks Tour: Global Adventures in Extreme Cuisine (2001)” tentang pertanyaan; jika misalkan kamu tahu kapan akan mati, apa yang ingin kamu santap untuk terakhir kali? Aurelia menjawab dengan tegas: mie ayam.
Tahun 2001 pula Aurelia Vizal dilahirkan, tahun-tahun berikutnya dia menapaki alasan logis kenapa mie ayam menjadi bagian penting dari hidupnya. Mie ayam baginya bukan sekadar hidangan. Ia adalah representasi perwujudan memori, tentang semangkuk mie ayam yang nyaris selalu menemani Minggu paginya, hadir bersama tayangan kartun kegemaran di televisi. Santapan yang disuguhkan dari gerobak abang-abang di dekat rumahnya.
Aurelia mengungkapkan, bahwa mie ayam adalah perwujudan dari campuran identitas Tionghoa-Indonesia-nya. Mie yang dibawa leluhur dari daratan Tiongkok, yang lantas bersatu dengan bumbu Nusantara. Ia lantas menyimpulkan;
“mie ayam adalah representasi diriku dalam sebuah mangkok”

Namun Aurelia juga paham, bahwa makanan tidak pernah berdiri sendiri. Seporsi mie ayam misal, adalah produk politik dari kebijakan impor, kesejahteraan petani, distribusi pangan, hingga regulasi harga.
Ketika banyak orang berujar, “siapapun presidennya, urusan makan tetap sendiri,” Aurelia justru mengingatkan, bahwa yang kadang dilupakan, urusan makan adalah sekaligus urusan politik. Apa yang kita kunyah hari-hari ini, adalah hasil dari sekian keputusan politik yang bekerja di belakang layar.
Kesadaran kritisnya tersebut dimulai dari bacaan. Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder adalah buku filsafat pertamanya, ia temukan dan melahapnya saat masih kelas satu SMP. Dunia Sophie membuatnya merasa seperti terlahir kembali dan memandang dunia dengan cara berbeda. Tak heran, di usia 16 tahun ia berdiri di panggung TEDx, berbicara tentang garis kabur antara ujaran kebencian dan kebebasan berpendapat.
Kini dia juga aktif menjadi bagian punggawa Malaka Project, mengisi rubrik “Jembatan Waktu” di kanal Youtube Malaka Project. Dia banyak bercerita tentang sejarah dan dinamika politik internasional.
Triple Minority dan Alasan untuk Terus Mencintai
Layaknya identitas yang tak pernah tunggal, entah yang melekat ke dirinya sejak lahir, dari ayah yang berdarah Hakka – Kalimantan, dan ibu yang keturunan Tiociu. Ia akrab dengan frasa “Cina” sebuah istilah yang lama dipakai, terutama di era Orde Baru dengan nada diskriminatif. Baginya, sebutan itu tidak masalah jika intensinya netral.
Namun saat disodorkan kata “Tionghoa” Aurelia mengemukakan hal itu terasa lebih nyaman, untuk mengacu kepada sesuatu yang lebih endonim, dibanding kata “Cina” yang lebih terdengar eksonim.
Identitas lahir adalah hal yang tidak bisa ditawar, namun di luar itu Aurelia juga membangun wajah dirinya dengan banyak hal yang dia kreasikan dan perjuangkan. Aurelia bisa dikenal sebagai penulis, konten kreator, ataupun influencer. Orang bisa mengenalnya dari beberapa pintu yang berbeda, dan dia membiarkan orang menemuinya lewat tulisan-tulisannya, unggahan foto dan video, atau via story telling di ragam sosial media.
Setelah tiga setengah tahun belajar mata kuliah Hubungan Internasional & Diplomasi di Taipei – Taiwan, Aurelia mengatakan dengan gembira, sebentar lagi dia akan pulang ke Indonesia. Dirinya mengungkapkan ingin hidup lama di sini. Ia ingin anak-cucunya kelak tumbuh bahagia di tanah yang dipuji Ismail Marzuki dengan syair Rayuan Pulau Kelapa ini.
Karena cintanya yang mendalam ke negeri ini pula, ia memilih untuk tetap kritis dan mengajak orang lain ikut bersuara. Kritik, baginya, adalah wujud sayang. Cinta yang menuntut keberanian meminta negara ini berbenah.
Tetapi cintanya pada Indonesia adalah cinta yang selalu ditodong pembuktian. Aurelia sering merasa cintanya diragukan. Di sekolah, nilai Bahasa Indonesianya selalu tinggi, ia langganan juara lomba puisi, bahkan sejak SD dia selalu membaca KBBI tiap hari untuk menambah kosakatanya.
Namun justru karena itu ia percaya cinta tidak pernah final, ia harus terus disiram lewat protes dan keberanian mengingat.
Cinta yang bukan sekadar patuh pada upacara atau simbol semata. Baginya, negara boleh saja memonopoli definisi cinta lewat kurikulum dan bendera, tetapi Aurelia yakin, cintanya lebih liar dan lebih brutal. Cinta, baginya, adalah kerja-kerja melawan lupa. Karena menurutnya, negeri ini bukan monumen, melainkan tubuh yang penuh luka, dan layaknya luka, tentu perlu diobati.
Aurelia tumbuh dalam generasi baru yang menolak mewarisi trauma untuk terus diam. Orang tua dan kakek-neneknya pernah berpesan: jangan bicara politik, jangan menuntut hak terlalu keras. Politik itu berbahaya, kata mereka.
Namun, Aurelia dengan cantik dan sendu menggugat itu, mengibaratkan bahwa dirinya dan generasinya adalah layaknya teratai. Yang dia bahasakan dengan metafora cerdas sekaligus menghujam;
“Keberanian kami adalah bentuk terapi kolektif, kami mengubah warisan trauma menjadi narasi tandingan, bahwa menjadi Tionghoa di Indonesia bukan berarti menjadi objek pasif dari sejarah, melainkan subjek yang berhak menentukan arah masa depan. Seperti teratai, tumbuh dari lumpur, tapi tidak membiarkan diri kami larut di dalamnya. Tumbuh, merekah, dan menghadap cahaya.”
Layaknya mengubah warisan trauma yang tidak akan pernah mudah, yang sepertinya menjadi jalan panjang dan berliku, Aurelia sadar sedang dan terus menghadapi itu, tak pelak dia kemudian menawarkan sedikit kegembiraan untuk melaluinya, tentu dengan menyantap mie ayam.
Saya kemudian bertanya, apa rekomendasi mie ayam di Jakarta yang perlu dicoba? Dengan semangat, dia mengatakan yang akhir-akhir ini sering dia sambangi; Bakmi Karet Krekot, Bintang Gading, Bakmi Kota 21, dan Bakmi Kun Tebet.
Mari makan, rasakan, dengarkan, dan ceritakan.
***
*Header, koleksi foto Instagram @Aureliavizal