Penulis: Husni Efendi
Saat kata “jajanan pasar” ini muncul, saya membayangkan mengarah kepada pasar-pasar di daerah Jawa, lebih spesifik pasar-pasar di daerah Jawa Tengah, dan jika dikejar lagi biasanya adalah kebanyakan kudapan pasar yang rasanya manis.
Apa yang saya bayangkan tadi mungkin bisa saja salah, jika dalam Street Food Asia di Netflix, jajanan pasar ini tertuju ke daerah Yogyakarta.
Kenapa Yogyakarta yang dipilih, saya membayangkan lagi alasan tentang para penjaja jajanannya – adalah perempuan-perempuan lansia tangguh—sebut saja mbah Satinem, yang sudah berpuluh tahun hingga renta menekuni lupisnya (dalam episode tersebut juga menyorot Mbah Lindu, legenda gudeg Jogja).
Perspektif tentang kemandirian perempuan yang bisa sangat mudah tertemukan di wilayah tersebut, dengan kuliner (jajanan pasar) sebagai medium perlawanan dan pembuktiannya.
Rasa manis dalam jajanan pasar di beberapa varian pilihannya juga menjadi semacam pengingat, bahwa pembentukan rasa tersebut (yang dominan dalam masakan-masakan Jawa) awalnya adalah sesuatu yang getir.
Dalam buku “Antropologi Kuliner Nusantara (Ekonomi, Politik, dan Sejarah di Belakang Bumbu Makanan Nusantara), penelusuran kenapa rata-rata orang Jawa menyukai makanan manis terjawab. Hal ini berkaitan dengan tanam paksa oleh pihak Belanda setelah bangkrut dalam perang Diponegoro di tahun 1830.
Dalam tanam paksa tersebut, petani-petani di Jawa diwajibkan menanam tanaman untuk komoditas ekspor, seperti tebu dan kopi. Petani di Jawa-Barat harus menanam teh, sedangkan petani-petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur, diharuskan menamam tebu. Selama masa tanam paksa itu berlangsung, di Jawa Tengah dan Jawa Timur didirikan kurang lebih seratus pabrik gula.
Untuk menggerakkan itu, ada sejuta lebih petani tebu, dan puluhan ribu buruh pabrik. Akibat yang ditimbulkannya kemudian adalah sekitar 70 persen sawah harus diganti menjadi ladang tebu.
Efeknya, stok beras menipis dan masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan karbohidrat. Sebagai gantinya, mereka memakai air perasan tebu untuk memasak.
Oh ya, kembali ke jajanan pasar tadi. Saya tertarik dengan kudapan dengan warna merah yang mencolok. Beberapa orang menyebutnya kue citak, kue kura-kura, kue ku, bol jaran, moto kebo, dll (di daerah lain mungkin penyebutannya bisa beragam lagi).
Kue ku langsung menancap dalam pandangan saya, mengingatnya dulu sebagai “nyamikan” (makanan ringan sebelum makanan utama) acara kenduri, selamatan, barjanji, atau hajatan-hajatan di kampung.
Selain itu, kue ku ini juga sering terlihat dalam menu sesaji masyarakat keturunan Tionghoa di Klenteng atau saat acara keluarga.
Saat ditelisik bentuk kue ini menyerupai cangkang kura-kura lengkap dengan motif yang biasanya tersemat di atasnya.
Mereka memaknai secara filosofis, layaknya kura-kura yang berumur panjang, hidangan kue ini juga menjadi makna simbolis untuk mendoakan umur panjang saat menyantapnya.
Tapi kue ku atau kue kura-kura ini berwarna merah saat acara-acara yang sifatnya suka cita, seperti Imlek. Kue ini akan tersajikan dengan warna hijau saat acara berduka.
Kira-kira, jajanan pasar mana yang menjadi kesukaan Anda?