Narasi

Cerita Lama dari Kupat Tahu Pojok Magelang

Cerita Lama dari Kupat Tahu Pojok Magelang

 

Penulis: Husni Efendi

Jika mengunjungi lagi kupat tahu pojok Magelang ini, ingatan saya meluncur saat dulu masih SD, saat kakek sering menjadi khatib Jumatan di masjid agung Magelang (tiap Jumat paing/pon saya lupa). Kadang pula saya diajak Jumatan di masjid tersebut dibonceng sepeda motor Honda CB-nya.

Jarak setengah jam perjalanan santai dari rumah, cukup menyenangkan sesudah melewati perempatan Pakelan. Suasana perkotaan dan decak gumun melihat keramaian pertokoan, atau gagah bangunan akmil Magelang.

Yang paling utama bagi saya, bukan ritual Jumatannya yang dinantikan, tapi selepas Jumatan saat kakek mengajak makan di kupat tahu pojok Magelang ini, kebetulan lokasi warungnya memang dekat dari Masjid.

Mendengarkan khotbah untuk mengajak ketakwaan tidak terlalu meresap di telinga, yang terlintas adalah kuah hitam kecokelatan pedas manis, dengan sensasi ulekan kacang yang tidak diuleg sempurna. Dan memang tidak perlu sempurna, karena memang spontanitas ulekan kacang dan bumbu dadakan ini yang membuat terasa syahdu.

Tahu panas sedikit berasap yang menuju hangat, dengan selimutan irisan kol, beberapa jumputan tauge, dan irisan seledri yang basah-basah menyegarkan. Gurih dan sedikit pahit bawang goreng yang ditaburkan layaknya salam tahiyat akhir, menjadi pungkasan yang wajib.

Kupat Tahu Magelang
Kupat tahu Magelang, dokumentasi pribadi

Tapi saat jamaah Jumat yang konon selalu berbahagia –sebagai anjuran dalam khotbah khatib– itu bubar, hati saya semakin berdebar. Melihat mereka dengan langkah kaki tergesa dan beberapanya bahkan menuju warung kupat tahu pojok tersebut.

Penantian panjang tadi, tidak selalu berbuah manis. Entah karena memang saya salah niat bukannya Jumatan yang terpatri, tapi sendokan kupat tahu di mulut yang dinanti.

Benar adanya, waktu yang dinantikan itu kadang bukan berbuah gurih di mulut, tapi gondok di hati yang didapat, karena warung terlihat penuh dan antrian yang memanjang. Dengan enteng kakek hanya berujar:

“Wis njo, mulih wae”

Saya tidak berani interupsi, suara riuh pengunjung dengan berisik sendok beradu piring, suara kepingan tahu saat dimasukkan ke dalam wajan panas, atau aroma khas warung itu adalah yang harus rela saya nikmati bawa pulang.

Warung kupat tahu yang menjadi langganan bukan hanya mereka yang bubaran Jumatan, tapi juga tentara-tentara senior Akmil Magelang yang beberapanya juga menjadi politisi.

Di dinding-dinding warung, sekarang penuh dengan foto-foto mereka. Tak cukup, dinding warung juga dilengkapi dengan beberapa orang yang tampak familiar dengan imbuhan “artis” dalam keterangan fotonya.

Mencecap kupat tahu pojok Magelang sekarang, bagi saya seperti ada yang berubah rasanya. Entah apakah itu. Selain tentu saja kakek yang sudah tidak akan pernah bisa mengajak saya lagi.

One thought on “Cerita Lama dari Kupat Tahu Pojok Magelang

Post Comment