Teks & Video: Husni Efendi
Mencoba masak nasi goreng jawa (nasi goreng kampung) ala-ala, sambil iseng saya videokan.
Saat memasak, saya masih suka terjebak dengan konsep lawas “rasa masa kecil”. Cupu tentu saja, belum banyak berani menantang lidah dengan sesuatu yang liyan.
Apalagi jika dorongan memasaknya karena memang sedang lapar. Sat-set, yang penting enak (menurut saya tentu saja) dan cepat.
Begitupun saat memasak nasi goreng, bagi saya nasi goreng adalah gabungan gurih bawang putih, bercampur pedas dengan dua amunisi; cabai rawit merah dan merica. Lantas menggumpal bersama kemiri, garam, menyatu dalam sekian bejekan di ulekan. Satu lagi, ini yang tidak boleh ketinggalan, terasi!
Campuran telor ataupun saat dijadikan topping, dulu saya merasa sebagai sesuatu yang mewah, saat emak suka memasak menggunakan anglo, lengkap dengan asap yang membuat sangit, dan kipas bambu manual yang membuat tangan pegal.
Tapi justru itulah yang membuat nasi goreng relatif lebih banyak bisa diterima; sederhana sekaligus memanfaatkan nasi pera dingin yang dimasak kemarin.
Konon, nasi goreng menjadi menu masakan yang enak setelah rendang. Dan seperti menjadi “trade mark” makanan Indonesia. Dan kadang membatin “apa itu makanan Indonesia?”
“Tak ada yang bernama makanan Indonesia,” kata pakar kuliner William Wongso dalam pengantar buku Antropologi Kuliner Nusantara. “Yang ada hanyalah masakan atau makanan daerah.” Artinya, kita bisa mengatakan semua jenis masakan yang berasal dari wilayah Indonesia sebagai “makanan Indonesia”.
Beberapa literatur tentang sejarah nasi goreng saya dapatkan salah satunya dari Fadly Rahman (sejarawan makanan nusantara).
Bila merunut pada alat yang digunakan untuk menggoreng nasi, wajan identik dengan alat dapur dari China. Dari segi bahan dan penggunaan rempah seperti turunan nasi pilaf dari Timur Tengah, sedangkan penggunaan minyak samin identik dengan nasi biryani dari India.
Saat kemarin baca-baca sekilas “Budaya dan Kuliner: Memoar Tentang Dapur China Peranakan Jawa Timur”, dijelaskan pilaf (embrio nasi goreng) adalah sejenis bulgur.
Pada perkembangannya nasi goreng masih tampak monoton jika dijumpai di beberapa tempat termasuk “template” (baik bumbunya atau variasi topingnya) sebagai sarapan di tempat biasa sampai hotel bintang lima.
Melacak lebih jauh, padahal kreasi nasi goreng ternyata sudah ada yang menggunakan campuran kencur, daun kluwak, atau mengkudu.
Untuk sekadar perbandingan, bahkan seperti Chef Tiarbah sebelum ramai dengan buatan nasi goreng dendeng lemaknya, ternyata pernah membuat nasi goreng dengan bumbu serbuk minuman jeruk.
Mari memasak.
*Untuk resep masakan ada di dalam video