Penulis: Husni Efendi | Foto: koleksi pribadi Ade Putri Paramadita
Pemandangan yang tidak biasa, saat Gordon Ramsay yang terbiasa bengis dalam Hell’s Kitchen itu melunak saat disuruh memamah durian. Gordon tidak menyukai buah itu dan awalnya menolak;
“smelliest fruit on the planet” ujarnya.
Spesifik yang disuguhkan adalah jenis durian Sumatra, dan Ade Putri Paramadita, orang yang membuat chef kawakan itu mampu menurut. Tak cukup, Ade kemudian menjilati jarinya yang belepotan daging buah durian di depannya sembari tersenyum meledek, lantas mensugestinya jika durian Sumatra berbeda.
Gordon, dengan bersungut-sungut dan menggambarkan durian, yang menurutnya, terlihat seperti otak manusia itu kemudian perlahan menelannya.
Menghadapi laki-laki dengan branding-an sebagai seorang yang galak, sepertinya bukan hal aneh untuk Ade Putri. Ketika remaja dan duduk di bangku sekolah menengah atas, di mana teman sebayanya saat itu mencari pacar biasanya seorang pemain basket, dia lebih memilih yang jago berkelahi. Alasannya teknis; supaya bisa diajari bela diri saat ada kakak kelas yang melakukan perundungan.
Keberaniannya itu sepertinya menurun dari ibunya, saat suatu kali mereka bepergian bersama, ibunya dengan tangkas mencekik seorang preman Pasar Senen gara-gara berani menggoda anak perempuannya itu. Keberanian yang tersemai saat usianya masih sangat belia, Ade Putri menegaskan hal yang mengagetkan dan nekat;
“Aku tidak perlu menikah hanya karena aku hamil”
Mendengar itu ibunya hanya pasrah. Sementara ayahnya, kemudian memegang pundak anak perempuannya tersebut dengan ketebalan kasih sayang dan kesabaran dalam kadar di atas rata-rata orang tua pada umumnya;
“Asyik, bapak mau punya cucu..”
Ucap ayahnya, saat mendengar kabar anak perempuannya yang baru lulus SMA itu mengandung, tidak mau menikah, dan memutuskan untuk melahirkan si jabang bayi sekaligus akan merawatnya.
Ade merasa bersyukur orang tuanya berlimpah keluasan hati ketika merawat dirinya. Hal yang ketika dewasa semakin disadarinya, bahwa mungkin mereka sedih, namun juga sekaligus tidak begitu paham bagaimana harus menangani kenakalannya.
Pernah pula, masa ketika Ade masih sekolah menjadi bengal, kabur dari rumah selama dua minggu, dan ibunya menyusul ke sekolah hanya untuk meberikan uang bayaran SPP. Lantas saat si anak badung ini memutuskan pulang, Ade dimasakkan makanan kegemarannya oleh ibunya; oseng nangka muda dengan teri jengki.
Ade Putri Paramadita tumbuh dari keluarga foodies, kakeknya bisa membawanya ke petualangan menyecap kaviar di satu waktu, dan mengajak menggerogoti tengkleng di lain hari. Sementara neneknya, mengenalkan tinutuan (bubur Manado) dari tanah kelahirannya.
Ade sangat akrab dengan tinutuan. Sampai-sampai, kalau di sebuah ruangan ada yang menggunakan pengharum aroma serai, dia langsung mengasosiasikannya dengan dapur yang sedang memasak tinutuan.
Sosok eyang putrinya dengan tinutuan seperti menjadi hal yang tak terpisahkan. Resep keluarga neneknya itu juga kemudian menurun ke ibunya.
Lauk pendamping hidangan tinutuan di keluarganya bisa beragam, kadang malah tidak berbau masakan Manado sama sekali.
“Pernah loh ibu bikin tinutuan tapi lauknya beef steak. Tapi ya itu mungkin sekali dua kali saja ya.” Ucap Ade sambil tertawa.
Lebih jauh dia menjelaskan, lumrahnya tinutuan itu biasanya disandingkan dengan ikan asin. Dan ibunya sering membeli ikan asin dengan jenis yang berbeda-beda. Lantas ada pula sambal terasi bawang merah mentah, dan juga pugasan telur asin sebagai pelengkapnya.
Eyang putrinya pernah bercerita, bahwa dulu di Tomohon, tiap hari Minggu, biasanya keluarga eyang putrinya bersama para tetangganya akan berkumpul dan memasak tinutuan dalam belanga yang besar di kebun dekat rumah. Memetik dedaunannya pun juga dari kebun untuk pelengkap isiannya. Lantas mereka akan makan bersama.
Setelah eyang putrinya pindah ke Surabaya, mungkin karena ada semacam kerinduan dengan kebiasaan ngumpul dan masak bersama, dia lantas sering melakukan open house. Alias, tetangga kanan kiri, dan sanak saudara bisa datang di tiap hari Minggu untuk menikmati tinutuan buatannya.
Dari ritual yang dilakukan neneknya dulu, Ade Putri menyadari satu hal;
“Setelah tahu rasanya masak dan menyajikan makanan buat orang lain, aku jadi paham mengapa dulu eyang putri begitu sangat menikmatinya”

Seperti bersemangat, Ade kemudian juga menjadi teringat salah satu momen makan yang berkesan adalah bersama ayahnya.
“Bapak itu doyan banget makan seafood. Dulu, secara berkala, bapak akan mengajak kami sekeluarga pergi ke Pasar Ikan Muara Angke di Minggu pagi, untuk berbelanja macam-macam seafood: kepiting, sotong, kerang..”
Lantas setelah pulang, ayahnya akan antusias dan sibuk membersihkan belanjaan yang diborong dari pasar. Berbagi tugas bersama istrinya, mereka kemudian akan mengolahnya. Kegemaran keluarga Ade Putri akan santapan boga bahari menjadi semacam perayaan bersama, layaknya menyantap tinutuan di rumah neneknya.
Suatu saat, ketika berlibur ke Pelabuhan Ratu, secara tidak sengaja, ibunya menemukan siput laut besar di pasar. Walau belum pernah mengolahnya, toh, tetap dibeli dan kemudian nekat dimasak. Jadinya semacam eksperimen ramai-ramai sekeluarga. Hangat dan menyenangkan. Bagi Ade, hal itu menjadi momen-momen yang sekelebat membuatnya kangen.
Ayahnya tidak hanya menulari kegemaran boga bahari, namun juga tentang musik. Ketika Ade masih berusia 5 tahun, dia sering diajak ayahnya ke Duta Suara di jalan Sabang untuk memilih kaset yang boleh dia dengarkan di rumah. Ade lantas memilih kaset rekaman Sheila Majid dan Vina Panduwinata untuk dikoleksi.
Semakin dewasa, Ade mendengarkan beragam genre musik. Termasuk suka membuat daftar putar lagu untuk berbagai kegiatan. Mulai dari Stevie Wonder, Jane’s Addiction, Dubyouth, Sore, Kelelawar Malam, hingga Seringai, Pearl Jam sampai Metallica.
Bahkan untuk band terakhir itu, Ade yang saat itu masih bocah berusia 14 tahun memutuskan menonton sendiri saat Metallica konser di Stadion Lebak Bulus tahun 1993.
20 tahun kemudian, saat Metallica kembali menyambangi Jakarta di 2013, Ade tidak datang luntang lantung lagi, namun dengan predikat road manager Seringai, sebagai band pembuka. Sehingga dia bisa leluasa sampai ke belakang panggung dan berinteraksi langsung dengan James Hetfield dan kawan-kawannya.
Mengikrarkan Diri Sebagai Pencerita Kuliner
Dari pengalaman bertahun-tahun menjadi road manager untuk band Superman Is Dead dan Seringai, yang membawanya ke puluhan kota di Indonesia, dan selalu menyempatkan menyecap sajian khas daerah yang disambanginya, ditambah kecintaannya yang mendalam tentang kuliner dan gastronomi, Ade Putri lantas mengikrarkan diri sebagai: Culinary Storyteller.
Ade membuat dan menggunakan istilah tersebut untuk melabeli diri sejak 2015, sebagai salah satu bagian dari upaya jenama pribadinya.
“Istilah ini memang dapat menggambarkan siapa aku, dan apa yang aku lakukan. Ketika aku bercerita mengenai makanan, formatnya bisa beragam. Mulai dari tulisan, foto, video, sampai acara santap atau perjalanan yang memang aku buka untuk umum.”
Pilihan-pilihan hidupnya seringkali berada dalam wilayah minor yang tidak banyak orang lirik. Dalam pilihan kuliner, selain soal santapan yang lekat dengan memori masa lalunya, dia akan mendefinisikannya ke dalam jenis yang tidak terduga dan mungkin kurang lazim.
Dalam perbincangan bersama Soleh Solihun dan Saleh Husein, Ade lantas menjabarkan tentang panipuri, kudapan khas India sebagai representasi jenis yang tidak terduga tadi; gabungan dari asam, manis, segar, aromatik, dan setiap kunyahannya membawa rasa di lidah yang menurutnya tidak monoton.
Hal itu pula yang terejawantahkan dalam prinsip hidupnya, saat umumnya manusia kiwari mematok rumah dan kendaraan pribadi seperti mobil sebagai salah satu titik pencapaian, Ade, dibanding mencicil rumah atau apartemen, lebih nyaman memilih untuk ngekos. Memilih menjual mobil dan bersetia untuk bersepeda. Alasannya, Ade hanya menjawab singkat;
“Karena itu sudah cukup”

Dari bersepeda itu pula, Ade merasa menjadi lebih bisa memaknai hidup dan membuatnya banyak kawan di jalan, seperti halnya petugas kebersihan yang beberapa kali bertemu dengannya, dan suatu kali membagikan sarapan ketan unti bekal dari istrinya itu untuknya.
Sikap Ade Putri soal prinsip hidup “sak madyo” yang dia terapkan dalam dominasi urban Jakarta itu menjadi semacam moral simbolik dari representasi kebangkitan sosok Dewi Ayu dari kuburan di belantara Halimunda dalam novel Cantik itu Luka, yang menjadi salah satu karya sastra kegemarannya.
Berbicara soal kuburan dan kematian pula, ketika saya bertanya, jika misal Ade tahu kapan akan meninggal, kira-kira makanan terakhir apa yang ingin disantap?
Ade menjawab pelan;
“Rasanya aku akan tetap menyantap apa pun yang saat itu tersedia di meja makan. Tapi kalau benar-benar diizinkan memilih, pasti penginnya makan masakannya ibu atau masakannya anakku, apa pun itu”
Dari sekian puluh tahun perjalanan kehidupannya, selain ingin terus bisa menceritakan tentang kuliner, Ade Putri Paramadita, seperti ingin tetap menantang dunia dengan sikap yang dia sematkan di rajah tangannya;
“knowing, forgiving, loving”
***