Jalansutra

Food Tantrum di Truntum Gama Semarang

Food Tantrum di Truntum Gama Semarang

Penulis: Harry Nazarudin 

Kota Semarang memang memiliki budaya kuliner yang kuat. Selain punya keunggulan sebagai melting pot, akibat statusnya sebagai kota perdagangan dan pelabuhan, orang Semarang juga terkenal militan dan mempunyai semangat 45 kalau bicara soal makanan.

Ketika kota lain gandrung kuliner Korea atau ngefans dengan kuliner Jepang, bahkan anak muda Semarang sekalipun tidak goyah! Jangan heran kalau cafe-cafe modern di Kawasan Candi saja makanannya tetap singkong goreng.

Budaya kuliner yang kuat ini membawa sebuah nilai positif: bahwa market Semarang “berani” bayar mahal untuk kuliner tradisional yang bagus dan disajikan elegan. Bahkan, menu Nusantara lebih disukai daripada menu Barat. Contohnya: tempat semewah Marabunta bisa punya rawon yang begitu elegan dan menjadi menu sarapan di Hotel Tentrem, yang menyulap kuliner kaki lima menjadi sajian gastronomi bintang lima.

Truntum Gama adalah salah satu buktinya. Restoran ini satu grup dengan Restoran Gama yang sudah lama menyajikan berbagai hidangan Nusantara khas Semarang, namun fokus pada format interior dan penyajian yang lebih modern. Menu pertama saja sudah mengejutkan: mie kopyok.

Mie Kopyok Semarang

Mie kopyok sesungguhnya adalah jajanan kaki lima Semarang, yang biasanya dijajakan di gerobak dorong. Ketika hadir, penampilannya bikin kaget! Kalau biasanya disajikan dalam mangkok, di sini mie kopyok hadir dengan piring keramik cantik, yang atasnya dipenuhi kerupuk gendar khas yang tebal dan berkualitas baik. Ciamik!

Hidangan ini mirip kupat tahu Magelang: kuah bening gurih sedikit manis, dengan tahu goreng, lontong, tauge, dan bihun, ditaburi irisan daun bawang. Waktu diseruput, amboi rasanya!

Kalau biasanya versi gerobak cukup nendang “gurih tabur”-nya, di sini kuahnya gurih alami, dan kualitas bahan yang bagus –dari tauge sampai gendar– menghasilkan sebuah hidangan emperan yang jadi eksklusif.

Kemudian saya melihat penampilan yang menarik di meja: sebuah piring berisi sayuran hijau dan secawan saus coklat gelap dengan biji rawit. Sekilas nampak familiar, lalu saya cicipi untuk memastikan. Persis! Di Solo, ada satu jenis makanan yang sudah nyaris punah: namanya brambang asem. Hanya ada satu yang jualan di Pasar Gede, dan Pak Bondan “Mak Nyus” Winarno dulu selalu bilang:

“Kalau dia berhenti jualan, brambang asem ini resmi punah.”

Glandir Semarang

Nah, ini brambang asem versi Semarang: di sini namanya glandir. Sayuran ini adalah daun ubi jalar yang direbus, dengan racikan dressing dari gula jawa dan rawit plus kecut dari jeruk limau. Wah, menarik jika pun di Solo punah, di Truntum Gama ada cadangannya.  Lebih cantik lagi penyajiannya daripada ala Solo.

Kemudian, ada juga menu khas Semarang yakni srimping goreng, yang eksekusinya bagus, tidak terlalu berminyak, dan segar bahannya.

Srimping Goreng

Masih ada kejutan lagi dari Truntum Gama: koyor petai!

Nah ini juga jagoan. Koyor adalah urat sapi yang dimasak sampai empuk, salah satu kegemaran orang Semarang. Ada gudeg koyor, opor koyor, tapi saya belum pernah mencicipi koyor petai. Hadir sangat sederhana: koyor dengan kuah seperti asem-asem, dengan petai yang terlihat jelas. Rupanya, tekstur koyor yang lembut, plus gurih dari urat yang terasa tajam di lidah, dengan tarikan bumbu manis pedas, sangat cocok berpadu dengan petai. Tak heran kalau menu ini habis duluan.

Koyor Petai Semarang

Yuk, cobain kalau ke Semarang!

Post Comment