Sosok

Michelle Santoso: di Antara Persimpangan Darah Tionghoa, Indonesia, dan Palestina

Michelle Santoso: di Antara Persimpangan Darah Tionghoa, Indonesia, dan Palestina

Penulis: Husni Efendi | Foto: Michelle Santoso arsip Luc’s Coffee 

Lahir dari nenek buyut seorang dragon lady, dan ibu yang berperangai tiger mom. Michelle Santoso menapaki takdir garis keturunannya di antara persilangan darah Indonesia dan Tionghoa. Dia merasa tidak punya satu tempat yang merepresentasikannya dengan penuh.

Sembari tersenyum, Michelle mengungkapkan, di Indonesia dia dianggap orang Cina, di Shanghai dia dianggap orang asing. Dalam kebingungan itu, dia belajar satu hal: orang yang tahu rasanya tidak sepenuhnya diterima di mana pun, akan selalu mencari cara lain untuk pulang. Baginya, perwujudan dari melampaui itu adalah melalui masakan.

Dari perenungan dan praksis olahan kuliner itu pula, jalinan darah Tionghoa dan Indonesia yang mengalir di tiap ruas nadinya menyatu dengan empati, keprihatinan, dan kemarahan atas ceceran darah anak-anak dan manusia tak berdosa yang tumpah di Palestina.

***

Michelle kecil merasa beruntung masih bisa menemani nenek buyutnya ketika tinggal di Shanghai. Dia mengingat sosoknya sebagai seorang nenek yang piawai bermain mahjong dan menyukai opera Tiongkok. Suara opera di televisi menjadi hal pertama yang Michelle dengar setiap kali dia bangun tidur.

Sementara kakek buyutnya, di tahun 1927 silam, pernah membuka pabrik pengemasan Coca-Cola pertama di Shanghai. Lantas saat badai revolusi kebudayaan menggilas, ia dipenjara dan diinterogasi oleh pemerintah Mao karena dicurigai sebagai mata-mata Amerika. Ia hidup hingga usia 103 tahun.

Dalam keadaan yang genting itu, nenek buyutnya menolak meninggalkan Shanghai, meskipun sebagian besar kerabat mereka melarikan diri ke Hong Kong. Kisah keteguhan nenek buyutnya untuk menemani dan menunggu suaminya pulang itu sekilas mengingatkan peran Gong Li sebagai Feng Wanyu dalam film Coming Home (2014), saat dia menunggu Lu Yanshi, suaminya, keluar penjara dengan keteguhan hati yang revolusioner dibanding revolusi kebudayaan itu sendiri.

Tak salah jika kemudian Michelle menyematkan predikat dragon lady untuk nenek buyutnya itu sebagai seorang yang tangguh, dia menjalani hidup dan mengembuskan nafas pungkasannya hingga usia 89 tahun.

Michelle kemudian menceritakan tentang ibunya, Yvonne Yuen, seorang perempuan kelahiran Shanghai yang saat pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia itu, dia umpamakan sebagai fresh off the boat, atau jika dalam istilah Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai hoakiau. Seorang perempuan yang memantapkan diri menikah dengan suami seorang warga negara Indonesia dan kemudian melahirkan Michelle di tahun 1988.

Michelle menjadi anak pertama dari tiga bersaudara. Hubungan dengan ibunya, sekilas terlihat seperti kakak beradik. Usia mereka yang hanya terpaut 20 tahun itu, membuat Michelle menganggap Yvonne bukan hanya sebagai sosok ibu, tapi juga sekaligus sahabat. Salah satu bentuk rasa sayangnya, selagi sang ibu masih ada, dia ingin terus menyampaikan hal-hal yang perlu dikatakan kepada ibunya, supaya tidak timbul penyesalan di kemudian hari. Michelle menggambarkan perasaannya, jika reinkarnasi itu nyata, maka fase hidup kali ini adalah takdirnya yang paling berharga karena bisa menjadi anak dari seorang Yvonne Yuen.

16 Mei 2015 silam, di mana menjadi salah satu hari bersejarah untuk Michelle saat bersama Jonathan mengikrarkan diri sebagai suami istri, Yvonne, di hari bahagia itu dengan isak yang tertahan membuka kembali salah satu memori terdalamnya. Sembari merangkul Michelle, Yvonne bercerita saat baru melahirkan dengan pertaruhan hidup dan mati, sosok yang masih tampak merah itu diletakkan oleh dokter di dadanya. Air matanya menetes saat degup jantungnya yang kuat menyatu dengan ritme jantung si jabang bayi yang masih lemah. Yvonne kemudian menimang bayi kecil yang menangis itu dengan sematan nama: Michelle Santoso.

Tangis lain dari Michelle yang masih Yvonne ingat dengan jelas adalah saat dia mengantarkannya di hari pertama masuk Taman Kanak-Kanak. Michelle kecil menangis sambil memandanginya berharap segera dibawa pulang, saat dia berjuang untuk tetap duduk di dalam kelas dan mencoba tenang.

Di tengah suasana haru yang disaksikan keluarga dan tamu undangan, Yvonne menyampaikan pengakuan:

“I am not an easy mother, I am a tiger mom..”

Michelle Santoso kecil bersama ibu, Yvonne Yuen | foto koleksi Michelle Santoso/@ms_santoso

Di saat beberapa dari mereka yang juga tampak sedang mengusap air mata, Michelle yang juga larut dalam keharuan itu secara spontan menimpali; rasanya ada gelembung ingus yang keluar dari hidungnya, dan seketika membuat suasana menjadi riuh tertawa.

Michelle tampaknya mahir dalam mencari celah sisi jenaka di tengah banyak situasi yang memaksanya berlarat dalam kesedihan, kondisi berat ataupun menekan. Secara spesifik, dia mengatakan bahwa humor adalah cara mekanisme pertahanan dirinya yang terus dilatih, dan di situasi-situasi tertentu membuat hal tersebut menjadi semacam gerakan refleks yang mengikuti.

Palestina & Metafora Perlawanan yang Hidup di Meja Makan

Di tengah aktivitasnya selain memasak untuk restoran dan bisnisnya, Michelle di beberapa tahun terakhir juga semangat untuk terus memasak beberapa hidangan khas Palestina di akun media sosialnya.

Sebelum menjadi sangat intens dengan isu Palestina, Michelle lebih banyak membuat konten-konten bernuansa “Auntie Michelle” tentang berbagi resep-resep Chinese food rumahan. Dandanannya yang berdaster dengan roll rambut yang nangkring di kepala, dan ekspresi wajahnya yang komikal, sekilas mengingatkan dengan ibu juragan kontrakan pemilik jurus kanuragan auman singa dalam film Kungfu Hustle.

Foto tangkapan layar Instagram Michelle Santoso/@ms_santoso

Sekarang roll rambutnya seringnya sudah berganti dengan bandana merah bermotif tanda hati putih yang lebih elegan menghiasi kepalanya. Seolah isi dalam kepalanya adalah simbol dari warna tadi. Merah sebagai perwujudan keberanian diri bersikap sekaligus identitasnya dalam darah Indonesia, merah sebagai repesentasi ke-Tionghoa-annya dalam filosofi keberuntungan dan kebahagiaan yang selalu ingin menyertai, dan merah pula yang mewujud sebagai simbol irisan daging semangka dalam elemen visual paling mencolok untuk menunjukkan solidaritasnya kepada Palestina.

Sebagai alumnus jurusan fashion marketing di Shanghai dulu, membuat Michelle sepertinya sangat menyadari tentang simbol-simbol yang dia kenakan.

Upayanya dalam terus menyuarakan kebiadaban Zionis Israel di Palestina bukan tanpa cercaan. Meskipun langkah perjuangannya relatif halus karena menggunakan medium masakan sebagai ruang ekspresinya, Michelle pernah diejek dengan hinaan “babi” untuk apa yang dia perjuangkan. Dia menanggapinya dengan santai. Menurutnya, dirinya sebagai keturunan Tionghoa dan suka babi itu lantas di mana letak hinaannya? Ungkapnya sembari tertawa, seperti kembali menegaskan proses coping mechanism-nya yang terus bekerja.

Bagi beberapa orang apa yang dilakukannya tersebut mungkin kurang lumrah, seorang perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia atau Cindo vokal menyuarakan perjuangan rakyat Palestina. Namun bagi Michelle, perjuangan kemanusiaan adalah hal yang universal, siapapun dia, di manapun tempatnya, dan apapun latar belakang keyakinan dan kewarga-negaraannya, setiap manusia merasakan sakit yang sama saat ditindas. Karena Michelle melihat fakta itu dengan gamblang, bahwa apa yang terjadi di Palestina itu bukan konflik, melainkan penjajahan.

Hal yang paling berat Michelle rasakan, ketika melihat keadaan di Palestina dan menyaksikan bagaimana nasib anak-anak di sana. Dia yang juga seorang ibu turut merasakan gemetar, melihat banyak anak-anak, perempuan, dan banyak manusia lainnya yang dibantai oleh kekuatan besar di bawah gempuran tentara IOF (Israel Occupation Forces).

Nuraninya tidak sampai hati membayangkan, saat ada satu keluarga sedang tidur di rumah, lantas tiba-tiba kediaman mereka dibom. Saat bangun, orang tua dan anak-anak sudah meninggal, sementara yang selamat pun ada dalam keadaan memprihatinkan ketindih puing-puing bangunan.

Empati Michelle terus terusik melihat itu, dia tidak mungkin memanggul senjata bermesiu dan turut serta bersolidaritas ke Gaza. Namun dia mempunyai senjata lain yang lebih ampuh dan tidak membunuh; keterampilan memasak.

Hingga kemudian suatu kali satu pesan masuk di antara beruntun pesan lainnya yang membanjiri direct message Instagramnya. Satu pesan yang menggerus hati dari seorang yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang paman yang mempunyai tiga ponakan, dan baru saja mereka tewas dibom di Gaza.

Di antara anak kecil yang tewas itu adalah Hamza, seorang bocah sepuluh tahun yang suka bermain, hobi menyeruput mi instan bersama pamannya, dan punya satu makanan kesukaan; qidreh. Hidangan khas Palestina yang menonjol dengan bawang putih yang melimpah, lemak samin, daging domba, beras basmati, chickpeas, dan campuran bawang bombay, kunyit, jintan, dan beberapa rempah lainnya.

Foto koleksi Michelle Santoso/@ms_santoso

Qidreh adalah salah satu olahan masakan yang membekas di kepala dan hati Michelle:

“Karena pertama kali aku mencoba memasaknya bukan karena resep, tapi karena rasa duka. Hamza sudah tidak ada. Dan saudaranya bilang itu adalah makanan terakhir yang mereka makan bersama. Sejak saat itu, qidreh bukan lagi sekadar hidangan, namun menjadi sebentuk doa, semacam cara untuk duduk sebentar bersama seseorang yang sudah pergi..”

Di kesempatan lain, Michelle dan keluarga kecilnya membagikan momen memasak dan berbagi resep musakhan. Sebuah hidangan lain khas Palestina yang memadukan ayam panggang berbumbu sumac dengan roti taboon, bawang bombay yang terkaramelisasi dan ditambah baluran minyak zaitun. Kemudian dilengkapi taburan kacang pinus sebagai pugasannya. Hidangan ini juga menjadi simbol perayaan atas panen zaitun di beberapa keluarga.

Pohon zaitun bagi banyak keluarga di Palestina adalah semacam penanda hidup dari regenerasi sebuah keluarga. Satu pohon bisa menjadi kenang-kenangan yang juga memberikan manfaat dari kakek hingga generasi cucu-cucunya. Sebab akarnya terhujam dan terikat langsung ke banyak tanah keluarga Palestina.

Sehingga saat masa panen zaitun tiba, mereka bukan hanya merayakan tentang pohon yang berbuah, tapi juga mensyukuri soal keturunan, kepemilikan, sekaligus akar identitas. Namun ketika pohon-pohon itu banyak ditebang oleh pasukan Israel, menghidangkan musakhan kemudian menjadi semacam pernyataan sikap, bahwa meskipun tidak lagi banyak, warisan itu masih berdiri tegak. Masih bisa dirasakan, masih bisa dimakan bersama, untuk terus berdiri di batas demarkasi yang masih tersisa.

Foto koleksi Michelle Santoso/@ms_santoso

Selain buah semangka yang menjadi simbol perjuangan rakyat Palestina, hidangan yang khas dengan perjuangan mereka adalah maklouba. Dinamakan maklouba, karena arti dalam kata bahasa Arab-nya sendiri adalah “terbalik”. Saat daging domba atau daging ayam dengan deretan sayuran yang menemaninya diletakkan di sisi paling bawah dalam panci, untuk kemudian disajikan panas dengan terbalik di atas nampan. Sehingga penampakannya kemudian; nasinya menjadi berada di bagian bawah, dan daging beserta kawanan sayurnya berpindah posisi bertengger di bagian atas.

Michelle kemudian menafsirkannya dengan;

“Apa yang tersembunyi di bawah kemudian menjadi mahkota di atas. Itu bukan sekadar teknik memasak, itu metafora perlawanan yang hidup di meja makan”

Jika Michelle memasak qidreh untuk mengenang Hamza kecil atas kebiadaban IOF, maklouba menjadi semacam jembatan yang lebih lebar untuk dia mendengarkan sayatan hati warga Palestina. Saat perbincangannya dengan Motaz Azaiza dalam Mata Najwa, seorang fotografer, jurnalis sekaligus aktivis yang bertaruh nyawa memotret genosida di Gaza (Majalah TIME memasukkan Motaz sebagai salah satu 100 tokoh berpengaruh di 2024), Michelle bertanya;

“Apa salah satu makanan terakhir yang Anda makan bersama keluarga di Gaza, sebelum genosida terjadi?”

Motaz menjawab tegas, itu adalah maklouba buatan tangan ibunya, di saat daging masih mudah ditemukan.

Anthony Bourdain, gastronom kawakan dan petualang kuliner legendaris kelas dunia yang keberpihakannya untuk Palestina tanpa tedeng aling-aling itu, juga menikmati maklouba saat berkunjung ke Palestina di 2013 silam. Tayangan yang terdokumentasi dalam Parts Unknown di musim kedua episode pertama itu, Bourdain ditemani Laila El-Haddad, seorang jurnalis dan penulis buku The Gaza Kitchen: A Palestinian Culinary Journey, menikmati maklouba dengan khidmat bersama sebuah keluarga di Gaza.

Dalam episode itu Bourdain mengungkapkannya dengan:

“Dunia telah menimpakan banyak hal mengerikan pada rakyat Palestina, tidak ada yang lebih memalukan daripada merampas kemanusiaan dasar mereka”

Di kesempatan yang lain, Anthony Bourdain semakin mempertegasnya dengan kutipan yang lebih tajam sekaligus satir:

 “Today, nearly everything is made in China. Except for courage. Courage is made in Palestine”

Foto koleksi Michelle Santoso/@ms_santoso

Identitas yang Tak Pernah Tunggal dan Refleksi Sunyi Makna Hidangan

Michelle lahir di Hong Kong, setiap tahunnya dia dan keluarga mempunyai rutinitas menengok opa dan omanya di Shanghai. Michelle kecil kental dengan budaya Tionghoa dan sedikitnya mampu berbahasa Canton. Masa kecilnya hingga remaja banyak dia habiskan berpindah tempat di Shanghai, Hong Kong, dan Jakarta.

Pada satu waktu, Michelle menjelaskan ke opa omanya kalau dia adalah orang Indonesia, sementara kakek dan neneknya bilang kalau dirinya adalah Cina. Michelle tetap ngeyel di depan mereka kalau dia adalah orang Indonesia. Sembari bercanda, Michelle memparodikan dirinya kalau perutnya dibelah yang keluar adalah rendang dan soto.

Namun ada situasi ironi yang membayanginya saat peristiwa Mei 1998 di Jakarta terjadi. Ketika itu usianya belum genap 10 tahun. Di tengah bersikeras menyakinkan diri di depan opa omanya bahwa dia orang Indonesia, sementara di titik lainnya dia merasa, bahkan orang Indonesia sendiri beberapanya tidak recognize dengan dirinya sebagai sama-sama anak bangsa.

Masa kecil Michelle penuh kebingungan. Dia pernah merenung bagaimana caranya untuk berbaur atau menyesuaikan diri dengan mereka. Dia menelisik, kesusahan itu mungkin karena dirinya sebagai keturunan Tionghoa generasi kesatu, tidak seperti keturunan Tionghoa lain di Indonesia yang sudah generasi ketiga atau bahkan lebih.

Who am I, adalah frasa yang dulu sering menggelayut di kepalanya, yang bahkan saat dia SMP di Jakarta, di mana banyak temannya yang juga sama-sama keturunan Tionghoa, memanggilnya dengan; “Si Shanghai”

Michelle tidak benar-benar paham tentang akumulasi apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Dia hanya tahu bahwa kemudian di satu titik harus cepat bergegas pergi. Bahwa rumah tiba-tiba tidak aman. Yang tersisa dari memori itu baginya bukan kemarahan, tapi lagi-lagi semacam kebingungan yang dia pendam dalam diam. Perasaan ditolak tanpa mengerti apa yang salah dengan kehadiran dirinya adalah proses panjang pendewasaannya.

Sementara di saat yang sama, Indonesia juga adalah tempat di mana dia dibesarkan oleh orang-orang yang menyayanginya. Teman-teman yang tumbuh bersamanya, budaya yang membentuknya, dan kuliner yang mengarahkan selera lidahnya.

Tragedi 1998, bagi Michelle tidak mampu menghapus itu;

“Indonesia bukan hanya satu peristiwa, Indonesia adalah seluruh cara hidupku terbentuk. Indonesia, adalah tempat yang merawatku, dan itu tidak berubah hanya karena ada momen di mana aku pernah merasa tidak diinginkan”

Foto Michelle Santoso arsip @billysblock

Puncaknya, ketika dia mulai memasak hidangan-hidangan Palestina, Michelle tidak menyangka bahwa proses itu akan membalikkannya menjadi sebuah refleksi pantulan ke diri sendiri. Dengan intonasi yang agak tertahan dia mengungkapkan;

“Di balik setiap resep yang aku pelajari, ada orang yang juga memasak menuju dapur rumahnya yang sudah tidak bisa mereka tinggali”

Michelle sangat mengenali perasaan itu, tentu bukan dalam skala yang sama, tapi dalam cara yang cukup untuk membuatnya mengerti mengapa makanan bisa mewujud dalam ruh perlawanan, memperkuat bentuk ingatan, dan menebalkan jejak identitas yang tidak begitu saja bisa dirampas.

Dari tempat yang tidak sepenuhnya bisa diambil dan dari identitas yang tidak harus tunggal itulah, Michelle mengaku jadi bisa mendengar cerita orang lain dengan lebih jujur dan mendalam, termasuk dari mereka di Palestina. Michelle memungkasinya dengan puitik sekaligus menghujam;

“Momen makan paling bermakna kadang bukan datang dari yang paling meriah, tapi muncul dari yang paling sunyi”

***

Post Comment