Penulis: Husni Efendi | Foto: Leon Ray Legoh/@leonkoil
Sore di sebuah tempat ngopi legendaris di bilangan jalan Hasanudin Bandung, Leon dan Wailan; sosok ayah dan anak itu, tampak sedang menyeruput kopi tubruk sembari berbincang hangat soal kegemaran mereka tentang musik.
Wailan sembari mengepulkan asap nikotin di depannya, bertanya siapa salah satu drumer kegemaran yang sekaligus memengaruhi ayahnya itu dalam menabuh drum. Diselingi lalu-lalang orang bertransaksi dan menikmati menu di tempat yang sudah ada sejak tahun 1947 tersebut, Leon menjawab sambil menyeruput kopi pekat yang masih mengepul; Jimmy Chamberlin, drumer dari The Smashing Pumpkins.
“Di tengah band rock biasanya banyak main drumnya di hi hat atau di crash symbal, Jimmy seringnya main di right symbal”
Leon menjabarkan, orang yang bermain drum seperti itu dan bisa terdengar dengan jelas, selain soal skill juga hebat dalam hal recording-nya. Ada sisi nge-jazz yang sumir Leon tangkap dalam permainan Jimmy Chamberlin, dan mungkin mengingatkannya dengan permainan drum yang dia gemari sebelum intens bermain bersama Koil.
Josh Freese (Foo Fighters, The Vandals) juga masuk radar pemain drum yang digemarinya. Perbincangan ayah dan anak itu kemudian membahas hal lain tentang makan dan suasana yang memengaruhinya, dan diakhiri ketika Wailan memesan olahan udang untuk disantap bersama.
Hidangan, Kenangan, dan Lagu Hujan

Leon Ray Legoh, penggebuk drum Koil, sebuah band yang santer disebut bermahzab industrial metal asal Bandung ini dengan semangat kemudian bercerita soal hidangan yang berkesan untuknya.
“Nasi jaha dan tinorangsak pada saat Natal. Ketupat dan sayur cabai saat Lebaran”
Menu yang pertama dan kedua seperti menegaskan darah Manado-nya yang masih kental mengalir. Nasi jaha, hidangan berbahan dasar beras ketan dengan cara memasukkan seluruh bahan ke dalam batang bambu yang dibakar dalam bara api. Penampilannya sekilas mirip dengan lemang, dan menguarkan aroma jahe yang khas, hidangan ini banyak ditemui di kawasan Banggai hingga Manado.
Sementara tinorangsak adalah masakan berbahan daging (umumnya babi) pedas, yang memakai campuran lada, bawang merah, bawang putih, kunyit, daun jeruk nipis, serai, dan perasan jeruk nipis. Tinorangsak biasanya juga disajikan dalam upacara-upacara tradisional suku adat di Minahasa sana.
Leon mengungkapkan kenapa hidangan-hidangan tadi berkesan, karena makanan-makanan di atas tadi biasanya hanya ada atau khusus dibuat di rumahnya ketika momen-momen spesial seperti Natal (nasi jaha dan tinorangsak) dan Lebaran (ketupat dan sayur cabai).
“Rasanya seperti bersalah gitu kalau makan makanan itu di luar momen tersebut. Atau merasa berdosa pada saat momen-momen tadi datang malah tidak ada makan makanan itu”
Leon, anak bungsu dari kedua orang tua yang berasal dari Sulawesi Utara. Ibunya dulu sering berpindah-pindah karena ikut dinas orang tuanya. Sementara ayahnya Leon, dulu menetap di Tondano.
“Orang tuaku bukan orang yang suka musik banget juga, paling Ibu aktif di gereja untuk paduan suara. Jadi sebenernya kaget juga ketika dulu orang tua mendukung penuh semua kegiatan bermusikku”
Leon mengenang, belajar drum dulu saat masih kecil karena merasa buta nada pada alat musik, kakaknya lantas menganjurkan untuk belajar drum. Di tahun itu satu set drum adalah barang mewah, ayahnya yang berprofesi sebagai dosen itu mendukungnya dengan mengantar Leon membelinya di kawasan Palaguna Bandung.
Dengan tersenyum, Leon mengingat lagu pertama yang dimainkannya dengan set drum itu adalah Love Hurts-nya Nazareth.
Jasa ayahnya tidak hanya mendukung Leon secara personal, namun juga mendorong Koil di awal-awal tahun 90-an. Doni, gitaris Koil dalam Bloods documentary of Koil mengungkapkan, ayahnya Leon adalah penyokong dana Koil di masa-masa awal rekaman. Bahkan mencarikan koneksi studio rekaman untuk mereka, meskipun ternyata studio yang dimaksud adalah studio musik dangdut. Leon tertawa ketika mengenangnya; apalagi saat dia bertanya soal take drum, pihak studio menjawab paling banter mereka pernah melakukan take untuk kendang.
Jasa besar ayah Leon untuk Koil itu pula yang kemudian melatar belakangi Julius Aryo Verdijantoro alias Otong, si vokalis Koil, sekaligus sutradara untuk video klip Lagu Hujan (pertama kali dirilis dalam album debut self-titled bertajuk Koil pada tahun 1996. Lagu ini kemudian kembali dirilis ulang dalam format EP di tahun 2022) menggunakan lokasi makam ayahnya Leon sebagai salah satu latar video klip tersebut.
Leon mengungkapkan dengan bangga;
“Lokasi syutingnya (video klip Lagu Hujan) di sebelah makam bokap gua, hehehe. Kalau dia lihat, pasti nggak nyesel dia dulu beliin gua drum, dan merelakan suasana rumah ribut sama suara drum dan Koil latihan beberapa puluh tahun lalu”
Video klip Lagu Hujan pula sepertinya menjadi video klip dari Koil yang memotret Leon dengan lebih personal; menziarahi sang ayah di komplek pemakaman dan memosisikan Leon menggebuk drum berada di tengah pasar tradisional Subuh di Bandung.
Otong, vokalis yang kenyang dengan pengalaman hidup surealis itu seolah ingin menggambarkan Leon; kawan mainnya sejak SMP, kawan ngeband hingga sekarang sudah umur kepala lima, dan bertansformasi layaknya keluarga, dengan pendekatan nostalgia sekaligus menyisipkan renjana (pasar tradisional) di dalamnya.

Saling dukung layaknya keluarga ini pula membawa Leon pada ingatan salah satu kejadian paling mendebarkan konsernya bersama Koil.
Momen paling membekas itu adalah saat akan melakukan konser bertajuk “Koil Akustik Resital” 2012 silam. Otong kehilangan suaranya di satu setengah bulan sebelum konser. Bahkan untuk berkomunikasi dengan Otong saja hanya bisa dilakukan dengan perantara teks. Dan kondisinya itu kemudian mengharuskan Otong tidak pernah ikut latihan.
Semakin dekat dengan jadwal konser, Leon dan kawan-kawan Koil lain gambling berharap semoga Otong bisa sembuh sebelum tanggal yang ditentukan. Tapi begitu semakin dekat dan tidak ada tanda-tanda sembuh, akhirnya anggota Koil yang tersisa menyiapkan back up file vokal Otong dari rekaman dan live untuk lipsync pada saat konser.
Doni (gitar) dan Adam (bass) pun sudah mempersiapkan diri ambil bagian vokal untuk mengisi kekosongan. Jika pun kondisi Otong masih tidak memungkinkan, rencananya dia bakal tetep ada di panggung dengan perantara lipsync.
Leon menghela napas, saat itu opsi membatalkan konser pun sudah tidak dimungkinkan. Nekat, akhirnya Koil tetep menjalani sesuai rencana sebagai pertanggung-jawaban.
Namun saat cek sound, Otong tiba-tiba datang. Dan tiba-tiba pula suaranya keluar walaupun tidak maksimal, mungkin hanya 50% saja yang pulih, tapi menurut Leon itu sudah sesuatu mukjizat.
Konser akhirnya tetap berlangsung, file lipsync akhirnya tidak jadi terpakai. Otong, dalam rasa pertanggung-jawaban dan perjuangan penuh akhirnya bisa juga bernyanyi meskipun tidak maksimal.
Rock and Roll dalam Tungku yang Menolak Padam
Rumah Makan Legoh, di kawasan jalan Sultan Agung no 9 Bandung di tahun-tahun 2009-2012 menjadi salah satu tempat yang sering saya kunjungi saat masih sering bolak-balik Bandung-Jakarta, setelah turun dari Baraya travel yang parkir di samping Holiday Inn Dago.
RM Legoh, menjadi titik strategis bertemu dengan beberapa kawan. Menu-menu seperti iga bakar rawit, nasi goreng hitam, sapi cuka adalah beberapa menu yang beberapa kali saya santap menemani banyak perbincangan hingga nyaris dini hari.
Di tengah lingkaran pertemanan di Bandung yang relatif kecil, di situ biasanya dengan mudah bertemu dengan kawan tanpa direncanakan. Punggawa Koil lain kadang juga terlihat nongkrong atau menemui tamu mereka di rumah makan ini. Tak terkecuali, tentu saja si empunya rumah makan; Leon Ray Legoh. Penjaga panggung paling belakang dari Koil, yang juga selalu bersetia meracik hidangan di dalam dapur Legoh untuk mereka yang datang.
Sosoknya sangat mudah dikenali, bertubuh gempal dengan rambut panjang yang sering terikat atau dicepol, mengingatkan dengan karakter Edmond Honda dalam Street Fighter atau gaya Rikishi dalam tadisi gulat Jepang.
Namun sepertinya itu tidak ada irisan langsung dengan selera musik dari Jepang. Leon menggemari Abacab-nya Genesis, terutama di masa Phil Collins. Lagu itu mengingatkan mimpi masa ABG-nya, dan awal-awal dia pengin main band karena gara-gara Genesis.
Dengan rendah hati saat mengingat proses dulu belajar bermain drum sampai keahliannya yang seperti sekarang, Leon berujar, belum tercapai untuk membawakan lagu itu karena belum ada tandem mainnya. Sergahnya sambil tertawa.
Leon juga senang mendengarkan Under Pressure-nya Queen & David Bowie. Sementara Animal Nitrate-nya Suede menjadi lagu penghubung dirinya di awal-awal bersama Koil, masa-masa itu Leon senang dengan sentuhan jazz yang seperti menjadi missing link dengan beberapa personil Koil. Dan Suede menjadi benang merah yang meng-klop-kan mereka untuk terus ngeband.
Persamaan lain dari personil Koil adalah mereka sama-sama menggemari Fariz RM. Astoria menjadi lagu kegemaran Leon saat Fariz menggawangi grup Symphony bersama Toni Wenas, Herman Gelly, dan Jimmy Paais.
Bagi Leon, perjalanan hidup barangkali adalah sebuah petualangan yang dimulai dari imajinasi lembaran buku Lima Sekawan di masa kecil yang sering dijumpainya. Dan kemudian setelah Leon dewasa, bertansformasi intim dengan karya-raya YB Mangunwijaya dan Umar Kayam.
Entah, apakah mungkin karena Umar Kayam pula, Leon kemudian menerapkan prinsip “mangan ora mangan kumpul” yang mendasarinya untuk membuka RM Legoh, sebagai tempat berkumpul anak-anak Koil dengan sekian jaringan pertemanannya, dan sekaligus pula bertemu lintas kalangan di meja pesanan rumah makannya.
Hal yang kemudian bermuara pada persilangan dua dunianya: musik dan dapur. Identitasnya kini tak bisa dicerabut dari keduanya, dan tak bisa pula kita bertanya untuk bagian mana dia harus memilih salah satunya. Musik dan masak adalah dua sisi koin mata uang dalam kehidupannya.
Leon memasak supaya bisa terus bermusik, dan ia bermusik agar punya alasan untuk terus memasak. Hubungan timbal balik ini bukan sekadar hobi atau apapun itu dengan segala macam kata gantinya, melainkan strategi bertahan hidup yang tumbuh dari dasar material kesadaran, ketika Leon melihat realitas bandnya sendiri.

Di awal dia memantapkan mendirikan Legoh, adalah titik kesadarannya bahwa karya band mereka tidak selalu mudah diterima pasar luas untuk menghasilkan nominal dalam membayar sekian tagihan.
Leon merancang RM Legoh dengan modal nekat. Dia tidak memiliki latar belakang bisnis, tidak punya riwayat pendidikan kuliner. Sambil tertawa, ia mengenang alasan sederhananya:
“Meh teu dicap pengangguran teuing lah, lamun keur teu main band teh”
Napas kreativitas bersama Koil beberapa tahun sebelumnya itu ternyata menjadi semacam ruh di dapurnya. Jika dalam mengisi ritme drum ia terbiasa eksploratif, maka dalam memasak pun ia menerapkan prinsip yang kurang lebih sama.
Leon yang mengaku awalnya tidak tahu apa-apa selain hobi makan, memilih untuk tidak terjebak pada pakem atau teori-teori kaku. Baginya, jika terlalu memikirkan aturan main di awal, langkah-langkah yang dijalaninya kemudian akan mentok. Prinsip itu yang dia lakukan dalam memasak dan mendirikan rumah makan.
Itulah kenapa cerita jenaka awal-awal pendirian RM Legoh bermula; setelah seluruh perlengkapan dapur dibeli dan uang di kantong sudah menipis, Leon baru sadar satu hal krusial: siapa orang yang akan memasaknya? Berkeinginan merekrut koki, tentu hal yang tak masuk akal mengingat modal sudah nyaris habis dibelanjakan untuk kebutuhan dapur.
Tidak ada pilihan lain, ia kemudian turun tangan sendiri. Di sinilah Leon belajar tentang kekuatan manipulasi psikologi terhadap diri sendiri. Dalam istilahnya, ia membahasakannya sebagai “menipu otaknya” untuk percaya, bahwa ia bisa memasak dan ia akan menjadi koki di rumah makannya sendiri.
Itulah alasan awal-awal menu di RM Legoh adalah hidangan rumahan, karena preferensi utama dari Leon adalah masakan terdekat yang kemungkinan bisa dia ekseskusi. Menu keluarga yang resep-resepnya dia tanyakan langsung dari ibunya itulah, menjadi pondasi RM Legoh yang lekat dengan cita rasa khas Manado.
Paten menggunakan nama keluarga “Legoh” sebagai jenama rumah makannya pun dorongan dari Otong, yang menurutnya unik dijadikan sebagai nama rumah makan. Saat sebelumnya Leon malah menamainya sebagai “Rumah Makan Kedai Bambu” yang terdengar sangat generik.
Setelah melakukan “penipuan otak” pun, Leon menganggap itu saja tidak cukup, “tipuan” itu berhasil membangun rasa percaya dirinya, yang ia lakoni selanjutnya kemudian adalah konsistensi. Kemampuan untuk bertahan dan terus melakukan hal yang sama secara konsisten itulah yang Leon anggap sebagai kekuatan utamanya.
Selama hampir 20 tahun, RM Legoh telah melintasi berbagai macam fase pasang surut, mulai dari jalan Sultan Agung no 9 hingga berpindah ke Lengkong Kecil 24 A. Bahkan saat ini, di tengah kendala tempat yang mengharuskannya berpindah lagi, Leon justru mengambil celah lain untuk mengeksplorasi menu pecel lele dan mie jowo dalam satu atap: “Warung Pecel Lele Cak Gendeng” dan “Warung Anglo Joss” di jalan Moch. Ramdan No. 104, Bandung.
Menu yang sama sekali berbeda dari karakter masakan Legoh sebelumnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Leon tidak hanya berhenti menjejakkan kakinya di pedal drum saja, tapi juga terus menjejak gas dalam bereksperimen, dan menyusuri setiap kemungkinan lain di usaha kulinernya.
Kenekatan, jatuh bangun, dan deretan menelan pahit derap kemungkinan itu pula yang kemudian coba Leon dokumentasikan dalam debut bukunya, Dapur Rock N Roll: Di Antara Musik dan Masak.

Dalam bukunya itu selain menceritakan di balik menu andalan yang disajikan di RM Legoh, dia berbagi pengalaman di awal-awal berbisnis kulinernya secara ekploratif. Leon membayangkan, dulu dia tidak ada tempat bertanya, dan buku itu dia tulis sebagai teman untuk mereka, yang ingin juga memulai usaha merintis rumah makan.
Judul rock n roll yang tersemat, sepertinya menjadi kata sifat yang Leon imani dalam menjalankan lelaku usaha kuliner itu sendiri; dikomplain tamu, jatuh bangun, pusing dengan kendala tempat, dan deretan persoalan lain yang mengekor, Leon hanya seperti ingin mengatakan; hajar terus, bleh!
Bagi Leon sepertinya sudah tidak ada kata berhenti dan menyerah untuk bermusik dan memasak, dua gradasi yang sudah mendarah daging dalam sumsum tulang hidupnya berpuluh tahun.
Namun layaknya kehidupan pula yang pasti akan berakhir di suatu masa kelak nanti, saya kemudian mencoba bertanya;
“Jika misal, Leon tahu akan sampai kapan hidup di dunia ini, kira-kira makanan terakhir apa yang ingin disantap?”
“Rujak gohu bakasang” Ujarnya dengan yakin sembari tersenyum.
Seusai perbincangan tersebut, langit di luar masih turun hujan dengan lebat, dan sepertinya masih lama hujan akan reda. Otong sepertinya benar saat menulis dan merapal lirik Lagu Hujan, yang di dalamnya kemudian seperti mewujud semacam perasaan yang mengalir;
“Mulai terangkai anganMenyusun beling-beling kenanganBanyak ilusi banyak yang sudah teralami
Kutunggu lama hingga hujan redaMenunggu lama hingga hujan reda..”
***