Acara

Sudut Pandang Baru Kuliner Jakarta Kota

Sudut Pandang Baru Kuliner Jakarta Kota

 

Penulis: Harry Nazarudin 

Minggu (2/11/2025) jam 8 pagi, beberapa peserta sudah berkumpul di depan Pancoran Chinatown Point. Gedung baru ini seolah berusaha menampilkan wajah Pancoran Glodok yang baru: bersih, megah, mewah, dan bernuansa oriental. Tapi, benarkah bahwa Jakarta Kota hanya punya satu nuansa saja? Padahal, kawasan ini dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa yang sejak abad ke-14 menjadi perjumpaan antar bangsa mulai dari Portugis sampai Arab. Masih adakah jejak budaya selain oriental di Jakarta Kota? Inilah tujuan Walking Tour Jajan Jalan Sutra hari itu: membuktikan bahwa Jakarta Kota itu multikultural, bukan Tionghoa saja!

Tur dimulai di Pasar Petak Sembilan dengan tujuan pertama, Nasi Kuning Bu Naomi. Kios ini sederhana namun sulit dicari: jam 8 pagi saja kadang-kadang sudah habis! Untung pas kami ke sana, kios ini sudah membuka dua front yang menyajikan hidangan nasi kuning Jawa: nasi kuning dengan bihun goreng, sambal goreng kentang, sambal merah dan sambal cabai hijau, plus ayam goreng dan asesorisnya.

Nasi kuning Bu Naomi

Waktu dicicip, wow! Tak heran dagangannya cepat ludes! Nasi kuning bisa enak karena komponennya kuat: nasi harum lembut yang gurihnya pas, bihun goreng yang tidak greasy, sambal yang segar memecah dominasi tekstur nasi, serta sambal goreng kentang yang memberi tarikan pedas gurih yang pas. Sedap nian!

Pemberhentian kedua: beli tahu putien untuk dibungkus. Yang ini memang oriental tapi masuk daftar karena keunikannya: tahu khas suku Hing Hua beraroma smoky yang cocok disantap bersama lodeh atau laksa.

Lalu rombongan bergerak ke satu sudut dengan dua andalan: yang pertama Roti Ayung. Roti ala Belanda dengan ukuran besar, bagian atas yang hangus sedap, serta isi yang melimpah: ada bakso ayam, nanas, bahkan abon. Persis di sebelahnya, sebuah kedai gado-gado dan asinan Betawi menjadi tujuan kami.

Gado-gado Jakarta adalah sebuah tonggak kuliner Nusantara: bumbu kacang, sayuran yang direbus, plus tahu dan kentang. Sedap dan spesifik! Asinan Betawi di sini juga menggunakan sayur sawi asin fermentasi dan bawang lokio. Segar dan cocok untuk pagi Jakarta yang panas terik.

Setelah dari sini, rombongan berlanjut ke sebuah tempat yang menjadi perwakilan Gen Z: Lit Bakery di Dead River Alley (Gang Kalimati), sebuah bakery modern yang bersih, sejuk, terang, hasil karya Lalita, salah satu putri kelahiran Pancoran.

Aroma kopi langsung menyergap: bukan kopitiam, ini pilihannya Espresso atau Americano bro! Pilihan kuenya pun sedap dan beragam dari croissant sampai canelle. Tapi ada satu kearifan lokal di sini: bombolini isi tape ketan! Adonan bombolini lembut dengan lapisan gula panggang yang renyah, berisi tape ketan yang manis gurih, membuat sajian ini khas dan menarik. Salut untuk Lit!

“Are you ready Sir?” kata seorang Abang berambut panjang ketika keluar dari Lit Bakery: rupanya beliau penjual soto tangkar. Soto tangkar boleh dibilang adalah nenek moyang soto Betawi: kuahnya lebih ringan dari sobet, dagingnya sengkel dan jeroan empuk nan sedap, serta dibubuhi emping yang menambah rasa. Jangan bicara Jakarta Kota tanpa soto tangkar!

Soto Tangkar

Nah, maju sedikit di sebelah kanan, mulai berjualan jam 10 pagi, ada dua harta kuliner: es selendang mayang dan mipan. Es selendang mayang adalah kudapan dingin khas Betawi berupa kue seperti puding dari tepung hunkwe yang lembut dan dibubuhi santan dan sirup frambozen yang disebut “kinca”, dengan warna khas merah putih hijau. Statusnya: endangered species alias sudah langka! Mipan beda lagi: sebuah kudapan khas dari tepung beras yang disantap dengan juruh alias gula merah cair dan bubuhan bawang putih goreng. Unik!

Setelah puas, kami beranjak ke tujuan berikutnya: Warung Lao Hoe dengan menu andalan mie Belitung dan laksa Bogor!

Konon, kedai kuno ini dimiliki pasangan dari kedua daerah tersebut. Mie Belitung mienya besar dengan kuah tarikan asam, dimasak bersama kentang dan emping. Sementara laksa Bogor punya kuah kuning dan daging ayam dibubuhi daun kemangi. Nah selain itu, andalan Lao Hoe adalah kudapannya! Ada khas Betawi, yaitu cempedak goreng, pisang goreng, rempeyek udang, dan gemblong. Cempedak goreng itu kudapan yang sederhana tapi ngangenin lho!

Laksa Bogor Lao Hoe

Setelah Lao Hoe, rombongan bergerak ke depan Kelenteng Toasebio. Ada satu zamrud kuliner di sini: Nasi Ulam! Nasi ulam adalah hidangan kuno yang bisa ditemukan di buku resep Batavia kuno. Racikannya juga sangat otentik: nasi dibubuhi serbuk kacang sangrai, dengan dendeng sapi dan cumi goreng, ditambah tempe goreng, perkedel kentang, dan telur dadar, lalu dibubuhi daun kemangi dan kuah semur berisi kentang, tahu, dan telur pindang. Komplit nan mak nyus! Kini tradisi nasi ulam Toasebio diteruskan oleh Nasi Ulam Asnawi yang buka dari jam 10 pagi sampai jam 7 malam. Menarik!

Nasi ulam Asnawi

Dari kawasan pasar Petak Sembilan, kami menyebrang ke kawasan Gloria. Di sini ada Es Kopi Tak Kie yang legendaris, tapi kami tidak mampir ke sana. Tujuan pertama: Ketupat Sayur Gloria. Ketupat sayur adalah hidangan khas Betawi dengan gulai labu siam yang menjadi cirinya. Hadir dengan ketupat, plus ayam goreng dan opor tahu tempe – jelas terlihat beda antara kuah opor yang lebih kental dan kuah gulai yang lebih encer.

Masuk ke kawasan ini, kita juga akan menemukan Otak-Otak Ny Santoso, dibuat dari adonan ikan tengiri asli dan dipanggang ketika akan dipesan. Ini bukan otak-otak abal-abal! Isinya banyak, pulen, hangat pas disajikan di meja.

Otak Otak Ny Santoso

Kemudian ada Kari Lam, bihun kari ala Medan dengan kentang dan potongan generous daging sapi empuk. Hati-hati, porsinya cukup besar! Kuah Karinya berbeda dengan gulai ketupat sayur, padahal sama-sama santan? Ya karena kuah kari di sini adalah pengaruh kuliner mamak (India Selatan) yang populer di Medan, dan secara geografis berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sebagai pusat budaya kuliner Mamak. Menarik!

Tujuan Tur Jajan Jalan Sutra kali ini adalah membuktikan bahwa Jakarta Kota, yang sebentar lagi tersambung via MRT, bukan cuma Tionghoa saja tetapi adalah melting pot dari berbagai kultur seperti layaknya ibukota metropolitan.

Kami jalan-jalan dan makan-makan dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang tanpa makan bakmi atau siomay. Malah ketemu nasi kuning, nasi ulam, bomboloni, soto tangkar, dan gado-gado. Ternyata bisa! Ini pun belum semua: masih ada wedang kacang hijau Betawi, rujak, sate asap, dan banyak lagi yang belum keburu kami jelajahi.

Lalu yang kita makan ini gagrak apa? Apakah gagrak Tionghoa, Jawa, India, atau apa? Well inilah namanya makanan Indonesia gagrak Betawi, wilayah yang nama resminya Batavia. Melting pot yang sesungguhnya!

Yuk, kita eksporasi Jakarta Kota dengan sudut pandang baru!

***

*Foto koleksi Komunitas Jalansutra 

One thought on “Sudut Pandang Baru Kuliner Jakarta Kota

Post Comment