Ragam

Bakwan Jagung ala Folklor Rasa

Bakwan Jagung ala Folklor Rasa

 

Teks & Video: Husni Efendi

Jika ada ungkapan “apa arti sebuah nama”, rasa-rasanya saya bisa menyematkan salah satunya kepada makanan ini. Saya menyebutnya bakwan jagung, tapi ada juga yang akan menyebutnya perkedel jagung, atau dari daerah lain menamakan sebagai dadar jagung. Jika disepakati sebagi “bakwan” pun, hal tersebut juga tidak tunggal.

Bagi orang Sunda disebut bala-bala, di daerah Pekalongan atau Semarang disebut badak, sedikit bergeser ke Pati dinamakan pia-pia, di daerah Malang disebut weci, ke Surabaya mungkin dipanggil ote-ote. Menyeberang ke pulau Sulawesi, tepatnya di Kendari dinamakan kandoang, ke utara lagi, di Manado disebut makau. Entah di daerah-daerah lain, mungkin akan ada lusinan nama yang bisa ditemui.

Nama-nama tadi adalah olahan tepung terigu yang dicampur dengan sayuran atau agak mewah sedikit ditambah udang, atau jagung tadi. Dengan bumbu yang pasti bervariasi pula.

Kembali ke bakwan jagung, saya kadang bertanya-tanya kenapa banyak menemukannya biasanya ada di restoran atau warung-warung Sunda, jarang warung Jawa Tengahan atau Jawa Timuran menyajikan ini (tolong dikoreksi jika pantauan saya ternyata tidak sesuai).

Padahal kalau menilisik daerah penghasil jagung terbanyak, tidak saya temukan satu pun di daerah Jawa Barat. Setidaknya jika memakai data tahun 2020 (data Pusdatin Kementan), provinsi Jawa Timur, menjadi daerah terbanyak penyuplai jagung dengan luas panen 1,19 juta ha, dan menghasilkan 5,37 juta ton jagung. Kedua, Provinsi Jawa Tengah dengan luas panen 614,3 ribu ha menghasilkan 3,18 juta ton jagung. Ketiga, Provinsi Lampung dengan luas panen 474,9 ribu ha menghasilkan 2,83 juta ton jagung.

Biasanya saya iseng mencari korelasi makanan dengan bahan di sekitarnya yang banyak bisa ditemukan, seperti halnya kenapa saya bisa sedikit paham tentang soto Bandung tidak memakai santan dan memakai campurannya dengan kacang atau lobak.

Toh, jika mau ditelusuri lagi, bakwan atau perkedel pun juga sepertinya sudah mengalami akulturasi dan modifikasi sesuai kebutuhan, perkedel awalnya datang dari Prancis dan Belanda dengan bahan utama daging babi.

Setelah melalui proses penghalalan, kini perkedel menggunakan bermacam bahan seperti kentang dan jagung. Ada kalanya ditambah bahan baku lain. Perkedel kentang ditambah daging sapi cincang, dan perkedel jagung ditambah irisan udang.

Baiklah, karena saya lebih suka bakwan/perkedel jagung, saya iseng-iseng membuat sekaligus memvideokannya. Jika puan dan tuan yang budiman tidak sepakat yang saya masak sebagai bakwan jagung, tentu tidak jadi soal.

Dari soal kuliner dan memasak, saya belajar untuk tidak melihat sesuatu dengan kaca mata mutlak.

Mari memasak.

*Untuk resep memasaknya ada di dalam video

Post Comment