Mencoba menyecap kembali sate Pak Sadjim. Saya terakhir menikmati hidangan ini, sepertinya dua dekade silam. Saya coba memesan seporsi nasi, dengan 10 tusuk sate kambing, ditambah semangkok kuah gule dan segelas teh tawar, semuanya dibandrol 67 ribu rupiah.
Tekstur satenya empuk dengan aroma prengus yang bisa ditoleransi, kemudian ada jejak kecap di panggangannya. Namun saat menjajal gulainya, ketika menyeruputnya, sepertinya jenis rasa yang kurang sesuai dengan selera lidah saya, tapi mungkin akan berbeda di lidah Anda.
Alamat sate Pak Sadjim bisa ditelusuri di sini
***
Namun setelah selesai menyantap hidangan tadi, ternyata ada sate kambing lain dekat situ juga, dan sepertinya tergoda untuk sekalian menjajalnya. Beruntungnya saya belum terlalu kenyang. Namanya Sate Pak Jede. Alamatnya bisa diklik di sini
Saya memesan: 5 tusuk sate klathak campur lemak, 5 tusuk sate klatak tanpa lemak, 1 tongseng, 1 nasi putih, dan 1 teh tawar. Semuanya dibanderol dengan harga 127 ribu rupiah.

Untuk sate klataknya dimarinasi dengan bawang putih dan bumbu dasar, jadi terasa gurih. Namun sayangnya saya tidak menemukan irisian tomat di dalamnya. Sementara sate yang campur lemak lebih terasa juicy dan empuk, dan menyisakan kuah di bawahnya.
Sementara untuk tongsengnya, banyak dagingnya dan terasa empuk, kuahnya kental dan terasa berempah, namun untuk takaran lidah saya, termasuk dalam kategori kemanisan. Jika saja manisnya dikurangi, mungkin akan terasa maknyus.
Oh ya untuk tehnya, tipikal yang kental dan terasa mantap.
Nanti kapan-kapan mungkin bisa datang lagi ke sini, karena penasaran dengan mie jowo-nya. Untuk sate klatak yang varian campur pun sepertinya boleh untuk disantap lagi, pas nanti datang kembali.
***
Penulis: Christina Wibisono, Jakarta (anggota grup Jalansutra)
Editor: Husni Efendi