10 November 2023 kemarin di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, yang juga bertepatan dengan hari jadi Taman Ismail Marzuki. Saya berkesempatan hadir ditemani oleh suami dan beberapa teman dari Komunitas Jalansutra, ACMI, juga grup Food and Travel, menghadiri pidato kebudayaan “Gastrodiplomasi Nasi Bungkus untuk menaklukan Lidah Dunia” yang dibawakan oleh William Wongso, dan diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.
Dalam Pidatonya, Om Will –begitu biasa kami memanggilnya– mengemukakan keistimewaan nasi bungkus. Antara lain karena ketersediannya di hampir seluruh Nusantara. Hampir semua orang mengenal nasi bungkus dengan nama yang berbeda di tiap daerah. Di Jawa ada nasi kucing, juga ada nasi timbel. Di Padang Panjang ada nasi kabaka.
Pembungkus nasi tadi biasanya menggunakan daun pisang atau daun jati, dan berisi lauk pauk sesuai menu lokalnya.
Budaya nasi bungkus sendiri, sudah dikenal di Indonesia sejak lama, terutama sebagai bekal bekerja dan perjalanan.
Di dalam nasi bungkus selain hanya soal makanannya, juga ada kekayaan budaya, keragaman kuliner, juga bukti soal kesigapan menghadapi hal hal yang tidak terprediksi. Nasi bungkus inilah yang biasanya menjadi penyelamat masyarakat ketika terjadi musibah seperti gempa, banjir, dll.
Karena beberapa hal tadi, Om Will –dalam pidatonya—mengungkapkan dengan yakin, pelan pelan, nasi bungkus bisa diangkat menjadi bahasa gastrodiplomasi secara global, sebagai agen of cultural untuk memperkenalkan Indonesia di seluruh dunia.

Ragam Nasi Bungkus di Indonesia
Di sini juga saya ingin menceritakan nasi bungkus yang kerap saya santap dan familiar dengan kegiatan keseharian.
Di daerah Sumatera Barat, tempat di mana menjadi daerah yang sering saya kunjungi, ada nasi ramas; nasi bungkus sederhana yang biasanya diproses dari rumah, dan menjadi bekal sekolah atau untuk menemani aktivitas di luar rumah. Berisi nasi dengan telur rebus, ikan asin sepat lado hijau atau juga ikan teri, dengan tambahan mentimun atau labu siam. Tambahannya juga bisa berupa terong yang diuwok (ditaruh di atas nasi panas). Sementara untuk daun pisang sebagai pembungkusnya, juga dipanaskan terlebih dulu di atas kayu bakar, supaya layu dan mudah dibentuk.
Bahkan seringnya nasi ramas juga disajikan sebagai suguhan, misal sehabis gotong royong, seperti yang dilakukan di Bukit Tinggi, kampung halaman suami saya.
Bicara soal nasi bungkus satu ini, mungkin pamor nasi ramas ala Simpang Raya mungkin bisa dikatakan menjadi jadi level tertinggi, jika dilihat dari puncak klasemen dari menu rumah makan yang ada di sana. Tandingannya, ada nasi Kapau yang menjadi urutan berikutnya.

Cara menyantap nasi ramas juga biasa dilakukan beramai-ramai dengan menggelar tikar di tengah rumah, layaknya acara makan bajamba.
Yang paling menyenangkan dari jenis nasi bungkus ini adalah, meskipun kita hanya memesan satu lauk, namun “remah-remahan” dari lauk lain biasanya juga turut disertakan; seperti sedikit potongan rendang, potongan dendeng kering, singkong dadu (dakak dakak), kacang merah, atau kacang pagar.
Secara umum jika diperhatikan, nasi bungkus dari rumah makan Padang, biasanya memiliki porsi nasi yang lebih banyak, dibanding makan di tempat. Konon, ini menjadi semacam kebijaksanaan orang tua zaman dulu ketika rumah makan Padang dulunya belum terjangkau oleh masyarakat luas, apalagi di zaman penjajahan.
Dulu, yang bisa menikmati menu-menu di rumah makan Padang kebanyakan hanya kaum bangsawan dan orang orang berada. Karena itu pemilik rumah makan biasanya akan berbaik hati kepada para pekerja yang membeli nasi bungkus dengan menambahkan porsi nasi lebih banyak, supaya bisa dinikmati oleh seluruh keluarga.
Hal tersebut masih terbawa sampai sekarang, beberapa rumah makan Padang masih melakukan tradisi tersebut.
Jika beralih ke Jawa Barat, nasi bungkus yang terkenal adalah nasi timbel, atau dalam bahasa Sunda biasa disebut sebagai sangu timbel. Nasi yang dibungkus menggunakan daun pisang berbentuk bulat lonjong. Asal kata timbel sendiri, sepertinya mengacu dengan bahan pemberat dalam alat pancing ikan, bentuknya yang juga bulat lonjong, juga biasa disebut dengan timbel. Apakah penamaan nasi bungkus ini karena mungkin kerap dijadikan bekal untuk memancing? Mungkin saja,
Dalam nasi timbel, lauk pendampingnya biasanya dibungkus terpisah, supaya lauknya tetap terasa garing dan tidak lembab. Karena nasi timbel biasanya terdiri dari lauk; tahu tempe goreng, ikan asin goreng, sambal, serta lalapan. Dalam perkembangannya, sekarang di rumah makan Sunda seringnya juga dipadankan dengan beragam tumisan, karedok, dan sayur asem.
Bergeser ke Cirebon, ada nasi jamblang. Isiannya khas, salah satunya adalah cumi hitam balakutak, juga ditambah tumisan sayur, tahu tempe dan perkedel. Dan nasi jamblang biasanya dibungkus daun jati, supaya tetap pulen dalam waktu yang cukup lama.

Nasi jamblang di balik rasa pulennya, menyimpan cerita yang cukup miris. Nasi jamblang ini, konon pada awalnya diperuntukan bagi para pekerja paksa di zaman Belanda, dalam proyek membangun jalan raya Daendels; dari Anyer ke Panarukan, yang juga melewati wilayah Cirebon.
Di Jawa Timur, ada pecel pincuk. Nasi bungkus ini menjadi nostalgia untuk saya semasa kuliah di Surabaya. Nasi dengan lauk pendamping yang dibungkus daun pisang, dengan bentuk mengerucut menyerupai mangkok, kemudian ada sematan lidi di salah satu sisinya untuk mengunci rapat.

Isian nasi pecel adalah aneka sayuran rebus dengan bumbu pecel (bumbu kacang tanah yang dihaluskan dan disiram air hangat), dilengkapi kerupuk peyek, ceplok telor, sesekali ada tambahan petai cina dan bunga turi. Menyantap ini, sudah bisa menjadi pondasi aktifitas untuk sehari penuh. Kalau pun misal akan dibungkus, tinggal ditambahkan lagi beberapa lembar daun pisang untuk menutupnya, dan dikunci lagi dengan potongan lidi. Praktis.
Nasi bungkus di Surabaya sendiri juga cukup beragam, yang sering saya nikmati ketika itu adalah nasi bungkus yang berisi nasi, mie goreng, orek tempe, telor bumbu Bali, dan tumis sayuran, kadang ditambah bakwan jagung.
Masih di Jawa Timur, ada juga nasi krawu khas Gresik. Saya juga menyukai sajian ini. Jarak yang cukup dekat dari Surabaya, membuat saya sering menikmati nasi krawu. Isiannya berisi suwiran ayam manis, serundeng dan sambal. Namun ada pula yang menambahkan daging sapi iris, semur daging sapi, atau baceman jeroan sapi.
Jika ditelusuri lagi masih ada ragam nasi bhuk khas Madura, nasi jotos dari Madiun, nasi jinggo di Bali, nasi kuning masak habang khas Kalimantan, dan berbagai macam nasi bungkus lainnya di pelosok-pelosok Nusantara.
Bisa dikatakan nasi bungkus adalah sajian yang dekat dengan keseharian kita sebagai masyarakat Indonesia. Sangatlah mungkin jika nasi bungkus dianggap sebagai representasi perwakilan kuliner Indonesia.
Pertanyaannya adalah, bagaimana strateginya untuk ditawarkan secara global ke seluruh dunia?
Ba’a caronyo ko? Kumaha tah? Piye carane jal?
Tabik
***
Penulis: Rerie Arimia (anggota grup Jalansutra)
Editor: Husni Efendi
Koleksi Foto: Rerie Arimia & dokumentasi DKJ