Sosok

Penjual Tenongan Pemantik Kenangan

Penjual Tenongan Pemantik Kenangan

Penulis: Mualim M Sukethi

Setiap pagi atau sore hari, Mbok Mundiyah selalu setia menyambangi pelanggannya. Dengan tenongan sejumlah 4-5 susun di gendongannya, perempuan sepuh itu menyusuri gang-gang di sekitar kampung Magersari, Kemirikerep, dan Bayeman, Kota Magelang.

Ia tak pernah merasa lelah, kendati gendongan itu cukup berat bagi perempuan seusianya. Kalau ada pelanggan yang menghentikannya, Mbok Mundiyah langsung menggelar tenongannya. Maka terhamparlah 4-5 tenongan itu dengan isi bermacam ragam jajan, kue, dan gorengan khas Magelang.

Sekadar untuk mengingatkan, tenongan adalah wadah yang terbuat dari bambu berbentuk tenggok agak ceper dengan ukuran yang cukup besar (diameter 50 cm).

Saya dan keluarga di Magersari bukanlah pelanggan Mbok Mundiyah, karena kami bukanlah golongan orang kaya yang bisa setiap hari beli jajanan. Tapi bagaimana pun juga sosok mbok-mbok yang setia menggendong tenongan itu tak mudah terhapus dari kenangan kami, yang lahir dan besar di Kota Magelang.

Itu sekitar 30-40 tahun lalu.

Kini Mbok Mundiyah tak kuat lagi menjajakan tenongannya keliling kampung. Perempuan yang kini berusia 72 tahun itu cukup membuka tenongannya di emperan toko di Jalan Pajajaran, sekitar pasar Tukangan, Kota Magelang.

“Sejak tahun 90 saya berhenti jualan keliling kampung. Dulu mangkal di depan Toko Nevo (elektronik) itu. Tapi karena tokonya dibangun, saya pindah ke sini,” kata Mbok Mundiyah memulai pembicaraan. Tenongan yang digelar juga tidak sebanyak dulu. Kini hanya tiga tenong.

Tapi isinya masih cukup beragam. Penganan khas Magelang yang kini sulit dijumpai di tempat lain masih tersedia di situ. Ada clorot, rolade daun singkong, mendhut, cakwe, gorengan, arem-arem, lemper, sego kuning, bakmi/bihun, kacang asin/telur, susu kedelai, setup degan, dll.

Sembari ngobrol dengan ibu sembilan anak, dan juga nenek dari sembilan cucu, ini saya menyempatkan diri mencicipi tahu goreng isi siomay, mendhut, serta bihun goreng. Minumnya setup degan.

Kalau tahu goreng isi siomaynya atau bihun goreng tak usah dijelaskan karena hingga saat ini masih banyak dijumpai.

Sedangkan mendhut adalah penganan terbuat dari beras ketan dibentuk bulat-bulat kecil segede bakso. Bulatan itu diisi parutan kelapa dan gula jawa, lalu dioles (topping) areh santan yang berasa gurih, dan kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus. Satu bungkus biasanya terdiri dua bulatan mendhut.

Slruuup..“ rasa manis kenyal bercampur gurih menjadi sensasi sendiri ketika bulatan mendhut itu masuk ke mulut dan sedikit dikunyah. Lumayan nikmat sekadar melepas kangen yang puluhan tahun mengendap.

Awal Mula Berjualan

Lima puluh tahun lalu Mbok Mun –panggilan Mbok Mundiyah– memulai berjualan tenongan. Saat itu, di kampungnya, Bayanan, Pakelan, Kabupaten Magelang, ia adalah ibu muda yang hanya tahu nderep dan tandur (menanam dan memanen padi). Itu pun sawahnya milik orang lain.

Mundiyah hanyalah buruh tani yang tak memiliki lahan sama sekali. Adik iparnya, Tumijah, kemudian mengajak Mundiyah berjualan tenongan.

“Dulu untuk jualan nggak butuh modal. Ada beberapa juragan yang menyediakan tenongan beserta isinya,” ujar Mbok Mun menceritakan awal mulanya ia ikut berjualan tenongan.

Mbok Mun kemudian menyebutkan beberapa nama pengusaha tenongan di awal tahun 60-70an, antara lain: Nya Ma Tik, Nya Ko Hwa, Nya Lan, dll. Nya adalah sebutan pengganti kata ibu bagi peranakan Tionghoa di Magelang.

Tenongan Mbok Mun di Magelang, foto karya Mualim M Sukethi
Tenongan Mbok Mun di Magelang, foto karya Mualim M Sukethi

Masih ingat, dulu selepas Subuh, dari rumah juragan-juragan tenongan itu muncul rombongan mbok-mbok menggendong tenongan. Mereka kemudian menyebar ke seluruh kampung-kampung di kota Magelang. Suatu pemandangan yang khas dan unik. Mungkin, di antara mereka ada Mbok Mun dan Mbok Tumijah.

Dari berjualan tenongan itu Mbok Mun bisa membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Sepanjang usianya, perempuan yang nampak murah senyum itu sempat dua kali berumah tangga.

Dari suami pertamanya, sesama buruh tani, Mbok Mun mempunyai tiga anak.

Setelah ditinggal mati suami pertamanya, Mbok Mun sempat menikah lagi. Suami keduanya adalah tukang batu/kayu, yang memberinya enam anak. Jadi total ia telah melahirkan sembilan anak.

“Dari berjualan tenongan inilah saya membesarkan anak-anak itu,“ urai Mbok Mun tanpa menyiratkan kesan kesedihan. Ke sembilan anaknya kini juga telah memberikan sembilan cucu.

Bahkan Mbok Mun juga telah dikaruniai  tiga orang cicit. Salah seorang cicitnya kini bersekolah hingga SMU, suatu jenjang pendidikan yang tak bisa dijangkau anak dan cucunya.

“Saya sendiri ndak pernah sekolah. Jadi tak bisa baca tulis. Tapi bisa ngitung uang..he..he..“ kata Mbok Mun terkekeh, dan memperlihatkan giginya yang tinggal dua. Gambaran pas seorang nenek seperti dalam lagu ‘Burung Kakaktua’.

Kini selain mangkal –tak lagi keliling kampung– ia juga tak lagi bekerja pada seorang juragan. Penganan-penganan itu ia dapat dari pembuat panganan yang berasal dari beberapa kampung.

“Mereka yang mengantar ke sini. Saya juga tak perlu membayar langsung. Saya hanya menjualkan,“ jelas Mbok Mun sembari menerima bungkusan kresek berisi 40 bungkus kacang asin dari seorang ibu.

Ia kemudian membayar senilai 100 ribu rupiah;

“Ini untuk membayar kacang yang kemarin, yang sudah laku,“ tambah Mbok Mun.

Kacang seharga 400 rupiah perbungkus itu ia jual seharga 500 rupiah perbungkus. Setidaknya setiap bungkus kacang itu memberi keuntungan sebesar 100 rupiah bagi perempuan yang kini menjanda karena suami keduanya juga sudah almarhum.

Karena hubungannya yang terbilang puluhan tahun, Mbok Mun senantiasa terlibat obrolan ringan yang cukup akrab dengan para pelanggan maupun pemasok dagangannya.

Dari situ nampak keramahan dan kepasrahan hidup dari perempuan renta ini. Kendati sudah setua itu, Mbok Mun masih mampu menjaga disiplin bangun sebelum subuh, mempersiapkan diri, dan kemudian berangkat menuju pangkalannya berdagang.

Dari desanya ia hanya butuh sekali naik angkot. Turun di depan RSU Tidar, dilanjutkan berjalan kaki menuju pangkalannya yang hanya berjarak sekitar 150 meter di belakang rumah sakit itu.

Kemudian ia mengeluarkan tenongan yang sehari-hari dititipkan di rumah kenalannya. Tidak lama kemudian pemasok langganannya berdatangan. Berbagai penganan pun memenuhi tenongan miliknya.

Sekitar jam 10.00 pagi, ia memindahkan dagangannya ke depan Bank Buana di depan RSU.

“Antara 1 sampai 2 jam saya jualan di depan bank itu. Di sana juga banyak karyawan yang jadi pelanggan saya. Nanti balik ke sini lagi,“ kata Mbok Mun sembari menaikkan tiga tenongan itu ke atas becak langganannya.

Becak itu pula yang nanti mengangkutnya kembali. Sekitar jam 15.00 sore hampir semua penganan habis terjual. Kalau ada sisa ia bungkus rapi. Kalau yang keringan bisa ia jual esok hari. Sedang yang basahan diambil kembali oleh pemasoknya diganti yang baru.

Sekitar jam 17.00 ia sudah tiba kembali di rumah menemui cucu dan cicitnya. Dari seharian berjualan tenongan itu sedikitnya 50 ribu rupiah untung yang bisa dibawa pulang Mbok Mun.

“Kalau dulu waktu mulai jualan untungnya paling 5-10 rupiah. Tapi sudah cukup buat nopang kebutuhan keluarga. Ya, buat mbesarken anak cucu ini,“ kata seorang nenek yang kini tinggal bersama dua cucunya itu.

Itulah rutinitas Mbok Mundiyah sehari-hari.

“Tidak pernah libur Mbok ?”

“Yah, seperti pegawai saja. Kalau pegawai masuk ndak masuk kerja, dapat gaji bulanan. Kalau saya ndak jualan ya ndak dapat duit,“ sergah Mbok Mun.

“Liburnya ya kalau sakit. Tapi jarang sakit tuh…” tambahnya.

“Kapan pensiun mbok, bukankah orang setua mbok lebih baik istirahat di rumah?”

“He he he, selama masih diberi umur oleh Gusti Allah dan tenaga masih kuat saya akan tetap jualan tenongan. Dengan jualan ini kan saya bisa bantu biaya sekolah cucu dan cicit saya tho..” tegas Mbok Mun.

Saya mengakhiri pembicaraan dengan membayar sejumlah 3500 rupiah untuk 3 jenis panganan dan setup degan yang kunikmati. Cukup murah untuk sekadar pengganjal perut di pagi hari. Aku meninggalkan perempuan perkasa ini. Ingatanku melayang pada penggalan sajak Hartoyo Andangjaya yang berjudul Perempuan-Perempuan Perkasa;

“Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta

Siapakah mereka ?

Akar-akar melata dari tanah perbukitan turun ke kota Mereka

Cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa”

***

Catatan: tulisan dan foto adalah karya almarhum Mualim M Sukethi, ditulis Juni 2010, pertama diunggah di blog pribadinya Borobudurlinks.blogspot.com. Dimuat ulang di Folklor-rasa.com dengan editing seperlunya.

Post Comment