Episode José Andrés
José Andrés seperti bisa membelah dirinya, berada di puluhan restoran miliknya, menyajikan fine dining; blue cheese & marcona almond tart, abalone & shiitake. Namun sekaligus bisa berada di Haiti, Ukraina, Palestina, dan pelosok negeri lain saat terjadi bencana alam dan konflik peperangan.
Dengan bendera World Central Kitchen-nya, dia mendirikan dapur darurat dan menyajikan puluhan hingga ratusan ribu porsi makanan untuk para korban yang kelaparan.
Dalam tayangan dokumenter yang lebih spesifik di National Geographic; “We Feed People”, dia memberikan perspektif baru untuk saya dari profesi seorang chef. Jika chef mengatur makanan di restoran tentu sudah biasa, melihat bagaimana José Andrés membuat sistem memasak dalam keadaan darurat; lengkap dengan distribusi makanan yang layak, dan tentu saja dalam puluhan bahkan ratusan ribu porsi saat bersamaan.
World Central Kitchen, organisasi yang dia dirikan, dan pengakuannya tentang semacam “pertanggung jawaban” dalam kalimat;
“aku yakin dalam profesi ini, kita masih kurang berpengaruh dalam cara memberi makan umat manusia”
Hiruk pikuk manusia, insting bertahan, frustasi, kesedihan, sekaligus menyelipkan harapan dalam setiap adukan masakan. Tak terkecuali José sendiri, saat terekam di pojokan menangis dan frustasi menghadapi berbelitnya birokrasi dan tuduhan dia memperkaya diri.
Predikat chef yang tidak hanya selalu identik dengan restoran, José Andrés, menempatkan posisi itu lebih tinggi; dengan titel dan kerja-kerjanya itu dia menjadi nominator nobel perdamaian 2019 silam.

Jika biasanya semakin tua, idealisme semakin layu di hadapan sekian tagihan, Alice dengan gagah membantahnya.
Menu “real food” yang beberapanya bertransformasi menjadi salad, setia diusungnya puluhan tahun –awet bersama ruh hippies-nya– melawan ejekan sekaligus industri tangguh makanan siap saji.
Alice seperti menyadarkan; utopia dan idealisme itu perlu, meskipun harganya dianggap aneh dan elitis. Alice sekaligus membuktikan, dia bisa mengubah dunia kuliner dengan Chez Panisse-nya, juga proyek kebun sayuran di ribuan sekolah yang digagasnya.

Saat pada masanya memasak dianggap tidak seksi, Jamie mampu mendobraknya dengan “kecelakaan” hingga membuatnya menjadi tenar.
Namun dendam tadi tidak sepenuhnya pulih, Jamie dan proyek Fifteen Restaurant-nya yang ambisius, terus mencoba mengumpulkan remaja-remaja yang bermasalah, untuk membuktikan eksistensi diri dengan memasak.
Hingga pada satu titik, Jamie mengalami kebangkrutan; puluhan restorannya tutup, dan dia merefleksi, jika selama ini hanya fokus dengan hal-hal besar.
Tampaknya, hal itu tidak sepenuhnya salah, di balik keterpurukannya, ada banyak remaja London yang termarjinalkan, dan berhutang terima kasih kepada seorang Jamie Oliver.
***
Penulis: @husni.efendi
Sumber Foto: Netflix & Rotten Tomatoes
Foto Header: Netflix/Ilustrasi oleh Barry Falls