Ulasan

Chef’s Table Legends: Deretan Chef Keras Kepala dengan Sisi Idealisme dan Manusiawinya

Chef’s Table Legends: Deretan Chef Keras Kepala dengan Sisi Idealisme dan Manusiawinya

 

Episode José Andrés

José Andrés seperti bisa membelah dirinya, berada di puluhan restoran miliknya, menyajikan fine dining; blue cheese & marcona almond tart, abalone & shiitake. Namun sekaligus bisa berada di Haiti, Ukraina, Palestina, dan pelosok negeri lain saat terjadi bencana alam dan konflik peperangan.

Dengan bendera World Central Kitchen-nya, dia mendirikan dapur darurat dan menyajikan puluhan hingga ratusan ribu porsi makanan untuk para korban yang kelaparan.

Dalam tayangan dokumenter yang lebih spesifik di National Geographic; “We Feed People”, dia memberikan perspektif baru untuk saya dari profesi seorang chef. Jika chef mengatur makanan di restoran tentu sudah biasa, melihat bagaimana José Andrés membuat sistem memasak dalam keadaan darurat; lengkap dengan distribusi makanan yang layak, dan tentu saja dalam puluhan bahkan ratusan ribu porsi saat bersamaan.

World Central Kitchen, organisasi yang dia dirikan, dan pengakuannya tentang semacam “pertanggung jawaban” dalam kalimat;

“aku yakin dalam profesi ini, kita masih kurang berpengaruh dalam cara memberi makan umat manusia”

Chef José Andrés shares his favorite Miami restaurants - Axios MiamiHiruk pikuk manusia, insting bertahan, frustasi, kesedihan, sekaligus menyelipkan harapan dalam setiap adukan masakan. Tak terkecuali José sendiri, saat terekam di pojokan menangis dan frustasi menghadapi berbelitnya birokrasi dan tuduhan dia memperkaya diri.

Predikat chef yang tidak hanya selalu identik dengan restoran, José Andrés, menempatkan posisi itu lebih tinggi; dengan titel dan kerja-kerjanya itu dia menjadi nominator nobel perdamaian 2019 silam.

Episode Alice Waters
***
Alice Waters on “Chef's Table: Legends”
Alice Waters dan jiwa aktivismenya yang terus tumbuh. Mengukuhkan Chez Panisse, restoran yang sudah dia hidupi lebih dari 50 tahun, menjadi restoran pertama di Amerika yang mencantumkan nama para petani di menunya.

Jika biasanya semakin tua, idealisme semakin layu di hadapan sekian tagihan, Alice dengan gagah membantahnya.

Menu “real food” yang beberapanya bertransformasi menjadi salad, setia diusungnya puluhan tahun –awet bersama ruh hippies-nya– melawan ejekan sekaligus industri tangguh makanan siap saji.

Alice seperti menyadarkan; utopia dan idealisme itu perlu, meskipun harganya dianggap aneh dan elitis. Alice sekaligus membuktikan, dia bisa mengubah dunia kuliner dengan Chez Panisse-nya, juga proyek kebun sayuran di ribuan sekolah yang digagasnya.

Episode Jamie Oliver
***
Chef's Table Legends: Release Date, Trailer, Celebrity Chefs Revealed - Netflix Tudum
Dendam masa lalu dengan sekolah dan disleksia yang diderita, menjadikan dapur dan memasak adalah pilihan, yang menurut Jamie paling masuk akal.

Saat pada masanya memasak dianggap tidak seksi, Jamie mampu mendobraknya dengan “kecelakaan” hingga membuatnya menjadi tenar.

Namun dendam tadi tidak sepenuhnya pulih, Jamie dan proyek Fifteen Restaurant-nya yang ambisius, terus mencoba mengumpulkan remaja-remaja yang bermasalah, untuk membuktikan eksistensi diri dengan memasak.

Hingga pada satu titik, Jamie mengalami kebangkrutan; puluhan restorannya tutup, dan dia merefleksi,  jika selama ini hanya fokus dengan hal-hal besar.

Tampaknya, hal itu tidak sepenuhnya salah, di balik keterpurukannya, ada banyak remaja London yang termarjinalkan, dan berhutang terima kasih kepada seorang Jamie Oliver.

***

Penulis: @husni.efendi

Sumber Foto: Netflix & Rotten Tomatoes

Foto Header: Netflix/Ilustrasi oleh Barry Falls

Post Comment