Mengunjungi kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, ada banyak pilihan kuliner yang bisa dijajal, beberapanya bahkan termasuk kuliner legendaris. Jika di Pecinan Glodok punya Gang Gloria yang menyimpan beberapa sajian yang melegenda, di kawasan Pasar Baru, Jakarta pusat, ada yang namanya Gang Kelinci.
Di situ ada satu warung Cakue Ko Atek, yang sudah berdiri sejak tahun 1971. Terletak di antara nama besar Bakmi Gang Kelinci dan Bakmi Aboen.
Dinding warungnya sederhana dengan didominasi cat warna biru tua. Pemandangan pertama yang langsung menarik perhatian adalah Ko Atek yang tampak selalu sibuk dengan adonan cakue dan kue bantal. Layaknya atraksi, Ko Atek tetap berkosentrasi dengan menguleni dua sajian yang dijajakannya, sembari sesekali berbicara seperlunya.
Sementara, istrinya bertugas mengatur ritme pengunjung yang mengantre untuk membeli, sekaligus menjadi kasir dalam setiap transaksi. Di sudut lain, satu pekerja yang khusyuk menggoreng adonan dalam panci besar berisi minyak panas, dengan asap yang mengepul memenuhi ruangan, dan menguar ke luar.
Jika berkunjung ke sini, jangan dibayangkan dengan memesan, langsung dibungkus, dan kemudian membayar. Buang jauh-jauh anggapan demikian. Karena, pesanan bisa diambil minimal setengah jam kemudian, terlebih jika di akhir pekan ketika banyak pengunjung, pesanan bisa selesai dalam waktu satu jam atau bahkan lebih.
Ritmenya adalah, saat datang, pesan berapa banyak yang diinginkan beserta nama pemesan. Istri Ko Atek akan sabar mencatatnya, setelahnya bisa berkeliling dulu di Pasar Baru, dan kembali lagi kemudian di waktu yang sudah ditetapkan.
Di dinding warung, terpampang keterangan yang menunjukkan bahwa Cakue Ko Atek adalah salah satu dari Top 10 Most Wanted Food in Jakarta, dengan beberapa larik paragraf sebagai keterangannya. Di sampingnya tampak beberapa foto Ko Atek yang dipigura sedang berlibur ke beberapa negara, dan berpose di depan patung Bruce Lee, yang mungkin menjadi idoalnya. Ko Atek seolah ingin menegaskan, dengan perantara cakue dan kue bantal, bisa mengantar dirinya berkeliling dunia.
Kami mengamati Ko Atek yang sedang bekerja, terasa menyenangkan dengan gerak lincah sat-set-nya. Untuk memipihkan adonan, dia menggunakan botol beling, yang dimanfaatkan sisi bagian bulatnya dan digelindingkan maju mundur.
Di ruangan warungnya pun tidak banyak diisi barang yang memang tidak diperlukan, sebab mejanya hanya diperuntukkan sebagai wahana menguleni adonan, dan terdapat satu wadah dari anyaman bambu yang digunakan untuk menampung cakue dan kue bantal untuk ditiriskan, dan ditutup dengan kain putih unntuk melindunginya dari debu.
Di sini juga bukan tipikal warung yang disediakan kursi untuk pengunjung duduk, untuk langsung menyantap hidangan. Semua yang dipesan akan dibungkus dan terserah akan dimakan di mana.
Konon, cakuenya akan tetap renyah, meskipun dikonsumsi beberapa jam setelah digoreng. Alasannya adalah karena minyak yang digunakan untuk menggorengnya menggunakan minyak kelapa murni, bukan minyak kelapa sawit.
Setelah kami memesan sekian jam lalu, dan kemudian mengambil beberapa cakue dan kue bantalnya, tidak perlu pikir panjang untuk langsung memakannya saat masih terasa hangat.
Tekstur cakuenya besar, namun cukup ringan dan tidak tebal, sehingga tidak memerlukan usaha berlebih dalam mengunyahnya. Ketika mengunyahnya, bagian luarnya terasa garing, namun di bagian dalamnya ada sedikit sensasi kenyal. Saat dikunyah lebih dalam dan kemudian menelannya, adonannya pun terasa tidak anyep. Jangan lupa untuk kemudian membubuhkan sambal cairnya yang terasa segar dan seimbang dengan rasa asam manis. Kalian tertarik mencobanya?
Mari makan, rasakan, dengarkan, dan ceritakan.