Penulis: Husni Efendi | Foto: Koleksi pribadi William Wongso
Wong See Hwa, menapakkan kaki pertama kali di Hindia Belanda tahun 1943. Ketika itu langit di kawasan kepulauan tersebut sedang mendung oleh cengkeraman pendudukan fasisme Jepang. Entah bagaimana ceritanya kemudian, Wong, kemudian turut serta menjadi bagian penting perjuangan revolusi kaum bumiputera.
Setelah negeri itu memproklamirkan diri kemerdekaannya, Wong See Hwa, lantas berprofesi sebagai juru kamera Berita Film Indonesia, BFI (cikal bakal yang kemudian menjadi PFN). Wong, di tahun-tahun genting sebelum dan paska 1945 berlarian menenteng kamera sebagai alat tempurnya di tangan. Dia turut mempertaruhkan nyawa di banyak palagan, termasuk membekukan momen-momen pertempuruan dalam agresi militer Belanda yang datang bersama sekutunya.
Kesetiaan Wong kepada Indonesia total dia imani. Hingga kemudian dirinya dipercaya menjadi fotografer pribadi Bung Karno, saat pusat pemerintahan republik yang baru berumur sekian bulan itu berpindah ke Yogyakarta.
Tahun 1946, Wong memutuskan menikahi Linda; seorang gadis pujaannya kelahiran Malang, Jawa Timur. Di tahun 1947 mereka dikaruniai buah hati, kelak, si jabang bayi itu berpuluh tahun kemudian dikenal menjadi pakar kuliner Indonesia. Wong dan Linda menamainya; William Wongso.
Tahun 1948, keluarga kecil itu pindah ke Surabaya. Lantas di tahun-tahun berikutnya, William Wongso mengingat ayahnya sebagai seorang pribadi yang kosmopolit. Wong See Hwa pula, yang mengajari William muda untuk terus belajar mengasah lidah.

***
Ingatan William kemudian menerawang, bagaimana salah satu ajaran yang tidak bisa dilupakan dari ayahnya itu terpaut tentang seonggok nasi putih dan segelas teh. Dua hal itu punya cerita tersendiri untuk William saat kecil. Ayahnya memperlihatkan kepadanya hal yang tidak lumrah; tentang sepiring nasi dan di atasnya diguyur dengan segelas air teh, untuk kemudian dimakan.
William mengingatnya sembari tersenyum, hal itu dilakukan bukan maksudnya untuk mau ngirit. Itu adalah pelajaran awalnya untuk mengerti bahwa lidah yang sehari-hari terkontaminasi dengan gempuran rasa yang antah berantah, lantas dengan ikhtiar kurang lumrah tadi lah, membuat lidah bisa merasakan sesuatu yang mendasar. Hal itu William peragakan di sela menyecap sop buntut bumbu arsik di dapurnya, sebagai penekanan pelajaran penting dari ayahnya soal teknik menetralisir lidah.
William memaknai itu sebagai upaya ayahnya membina spektrum cita rasanya. Kebiasaan itu kemudian juga diterapkan kepada cucu-cucunya yang masih balita. Mereka dikenalkan misal dengan aroma durian;
“Nggak boleh dimakan ya tapinya” ujar William sembari tertawa.
Dari pengalaman itu, dia lantas menggembleng lidahnya sebagai medium kolektor rasa. Kemana pun dia pergi, William akan mencoba makanan khas dari daerah tersebut. Menurutnya, manfaat itu banyak gunanya, dia mengibaratkan jika lidah itu tak ubahnya seperti kanvas. Saat belajar melukis, mungkin orang hanya tahu beberapa warna dasar, namun saat sering mengunjungi pameran lukisan, warna-warna tadi akan berkawin silang, beranak pinak, dan berubah menjadi gugusan sekian warna yang menancap di kepala.
Itulah kenapa kemudian William semacam mempunyai rumusan ketika pergi ke banyak pelosok daerah di Indonesia dan luar negeri. Dia akan bertanya tentang menu sarapan apa yang khas di daerah itu, dan di mana letak pasar tradisional berada.
Dengan yakin William memaknai pasar tradsional sebagai ensiklopedi kuliner hidup yang ada di daerah tersebut, sebab menurutnya, pedagang-pedagang di situ mungkin sudah bergenerasi menunggu lapak yang sama, sehingga mereka menyimpan banyak cerita mendetail tentang bahan-bahan masakan yang mereka jual, resep memasaknya, dan turunan cara mengolahnya menjadi hidangan.
Masa kecil William dipenuhi ingatan tentang hidangan-hidangan neneknya yang dikemas dalam rantang dan diantarkan ke rumah-rumah tetangganya. Hal yang sama pun mereka juga akan melakukannya, dengan mengirimkan hidangan lain sebagai bentuk balasan terima kasih.
Saat cuaca hujan seperti yang sering terjadi di Jakarta belakangan, William kemudian seperti mengenang nostalgia masa kecilnya pada nasi goreng ala neneknya yang biasa disantapnya dulu. Di saat itu, neneknya di dapur kemudian akan mencari cabai, bawang merah, lantas diulek kasar dan bercampur semua dalam wajan. Setelah selesai, nasi goreng yang masih mengepul itu lantas akan dipugasi dengan kerupuk udang, dendeng manis atau telur.
Hidangan kesukaan masa kecil William juga berderet dari soto Madura, kikil, soto Lamongan, bandeng, sate Madura, dan beberapa khas masakan Jawa Timuran lainnya. Sementara untuk minuman, tidak ada hal yang spesifik disukainya saat masih kecil, namun ketika menginjak usia dewasa dia sering minum STMJ (susu, telur, madu, jahe) sergahnya sembari tertawa.
William mengingat jelas, masakan yang pertama dia kuasai saat menginjak usia dewasa adalah memasak steak dengan hasil dan kualitas yang prima. Setelahnya, William juga belajar memasak hingga ke Prancis, Italia, Belanda, Jerman, Thailand, hingga Vietnam. William juga menekuni spesifik tentang bakeri di Eropa.
Bentuk keterikatan masa kecil dengan santapan rumahan menurut William adalah sesuatu yang penting. Saat mengatakan itu tiba-tiba ada kilasan kekhawatiran di wajahnya. Dia mencontohkan, banyak orang tua urban yang pindah ke Jakarta, lantas berkeluarga dan mempunyai anak, namun anak mereka tidak tahu sajian khas tradisional apa di daerah ibunya berasal.
Kekhawatiran William dipertegas tentang banyak anak-anak generasi sekarang yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan benar, padahal lahir dan besar di Indonesia. Ungkap laki-laki bernama lengkap William Wirjaatmadja Wongso, yang 12 April 2026 nanti menapaki usia 79 tahun. William selain berbahasa Indonesia, juga fasih berbahasa Inggris, Mandarin, dan dialek Jawa Timuran.
Lebih jauh saat berbicara tentang kuliner, yang juga tidak terpisahkan dari hal itu menurutnya adalah soal tasting dan tentang bagaimana menggali keunikan dari rasa sebuah hidangan. Dengan detail, dia menguraikan bahwa memori tentang rasa dari sebuah masakan itu akan menjadi perbendaharaan tersendiri yang tidak bisa dipelajari secara akademis:
“Even when you go to the best culinary school in the world” sambungnya. I always say, you can Google everything, but you can’t Google taste” jelasnya, seolah dia ingin mengungkapkan bahwa persoalan taste dalam mengeksplorasi kuliner itu adalah semacam lelaku jalan pedang yang mahal, sekaligus menjadi pengalaman yang soliter.
Dari perjalanan menyelami kuliner Nusantara puluhan tahun itu pula, William mempunyai pijakan kokoh ketika menyatakan dengan yakin;
“Tidak ada makanan khas Indonesia, yang ada hanyalah regional cooking berdasarkan kearifan lokalnya masing-masing”
Ini adalah pernyataan serius, yang juga dia refleksikan di dalam salah satu karya bukunya: Cita Rasa Indonesia Ekspresi Kuliner William Wongso. Konteks reflektif William di salah satu bab itu adalah persoalan yang mendasar tentang apa yang disebut sebagai hidangan Indonesia. Menurutnya, para pakar kuliner telah lama mendiskusikan hal ini, tapi belum mendapatkan kesepakatan.
Bahkan saat dikejar pertanyaan, bagaimana dirinya menggambarkan cita rasa masakan Indonesia dalam satu kalimat? Hal yang disadarinya, bahwa sekalipun menggunakan seribu kalimat pun, tetap tidak akan sanggup menguraikan kompleksitas warisan kuliner Indonesia yang berakar dari ribuan pulau di Nusantara.
“Begini saja, menurut saya cara terbaik menjelaskan kuliner Indonesia itu adalah menganggapnya sebagai refleksi cita rasa daerah” (Cita Rasa Indonesia: Ekspresi Kuliner William Wongso, halaman 56).
Dia melanjutkan, bahwa yang kita miliki adalah dapur penduduk Indonesia yang beragam, dengan banyak perbedaan intepretasi. Kita juga diperkaya dari pengaruh Tionghoa, India, Thailand, Malaysia, Belanda, Inggris, dan Portugis. Sebagaimana penduduk, agama, dan budayanya, makanan Indonesia adalah kombinasi dari berbagai gaya yang saling terkait dan melebur menjadi satu.
Di bagian buku itu pula tersemat salah satu testimoni petualang kuliner dan pencerita gastronomi dunia legendaris, Anthony Bourdain. Dalam sebuah kesempatan, William mengenang Bourdain sebagai seorang yang jarang membicarakan fine dining, tapi selalu semangat ketika mengulas street food. Setiap kali mencoba makanan jalanan dari satu daerah ke daerah lainnya; “you always get culinary surprise” ungkap William mengutip Anthony Bourdain.
Bahkan secara spesifik, Bourdain mengungkapkan rasa terkesannya tentang rendang khas Agam kepada William secara langsung.

Saat William menjelajahi Sumatra Barat, yang menurutnya, setidaknya memiliki lebih dari 150 variasi rendang; karena setiap desa memiliki versinya masing-masing. Dengan penampilan khas mirip yang seolah hangus, akibat dari proses pemanasan berulang. Dapur-dapur tradisional di Sumatra Barat membuat rendang dari daging kerbau yang dimasak selama delapan sampai sembilan jam. Namun sekarang, daging sapi lebih umum dipakai. Membuat rendang membutuhkan kerja keras, dan ketelatenan untuk terus mengaduk, juga kesabaran layaknya pertapa.
William Wongso dalam melihat kuliner Minang dengan paket rendangnya ini seperti mempunyai persona yang tidak perlu diragukan dalam jagat masakan Nusantara, bahkan di luar negeri sekalipun. Menurutnya parameternya sederhana, siapa di Nusantara ini yang tidak mengenal rendang?
Itulah alasannya kemudian dia juga merekomendasikan tim Uncharted-National Geographic, untuk memboyong Gordon Ramsay, dan menjadi tayangan yang menyenangkan saat chef bengis Hell’s Kitchen itu ditantang memasak rendang di tanah Minang sana.
William mengaku, saking banyaknya varian rendang, sepertinya dirinya belum bisa menjajal semua jenis rendang di Nusantara, meskipun diberikan tiga kali kesempatan hidup.
***
Soto Madura Gubeng Pojok adalah kegemaran sarapan Wong See Hwa. Tak terhitung berapa kali William melihat ayahnya menenteng rantang berisi penuh sajian soto itu, untuk kemudian dibawa pulang dan disantap bersama.
Di balik sosoknya yang lekat dengan dunia sinema dan fotografi, Wong See Hwa banyak memotret kehangatan keluarga Presiden Soekarno, dia menyaksikan dengan dekat tumbuh kembang anak-anak-anak presiden pertama itu dengan penuh dedikasi.
Namun ironinya, Wong hampir tidak memiliki waktu untuk memotret keluarganya sendiri. William tumbuh dengan ayah yang jarang di rumah, seorang workaholic yang kaku dan sulit dibantah, namun menjunjung tinggi integritas dan loyalitas.
Anak dan ayah itu tidak mempunyai foto bersama, bahkan juga tidak ada dokumentasi foto keluarga Wongso yang lengkap bersama sang ayah. Sekian tahun bertugas untuk negara pula, ironi lainnya, Wong See Hwa baru diresmikan menjadi WNI pada tahun 1960 melalui keputusan Presiden. Wong See Hwa, kemudian juga dikenal dengan nama Soewadi Wongso.

Tak hanya soal masakan yang kemudian bisa terasa hambar saat beberapa detailnya hilang, sejarah seringkali pula abai pada detail dari mereka yang bersetia berada di belakang layar. William mengungkapkan dengan rasa berat hati banyak dokumentasi-dokumentasi audio visual maupun foto karya ayahnya yang menghilang, ataupun kalau ada, banyak yang tidak ada kredit nama ayahnya. Di antara yang sedikit itu, William mengungkapkan beberapa karya ayahnya sepertinya disimpan oleh sejarawan sekaligus diplomat, Des Alwi.
Ada senyum di wajah William, saat salah satu warisan fisik yang tersisa dari sang ayah salah satunya berisi tulisan tangan pesan dan kesan khusus dari beberapa petinggi republik saat itu, termasuk Bung Karno dan Bung Hatta untuk ayahnya.

Di balik kerasnya prinsip Wong See Hwa, ada Linda Wongso sang istri, yang terus mendukung kecintaan suaminya kepada nasib republik. Sebelum menetap di Surabaya, Linda adalah seorang guru musik di Malang yang rela mengubur ambisi pribadinya demi mendukung dedikasi suaminya.
Ibunya menjadi semacam ruang aman bagi imajinasi William yang liar. Ketika William kecil pernah bermimpi menjadi dokter, sang Ibu tidak menganggapnya konyol; ia justru membelikan tumpukan buku kedokteran yang koleksinya bahkan melampaui milik mahasiswa kedokteran sendiri.
Rumah keluarga Wongso di Surabaya pada masanya, tumbuh menjadi semacam dapur umum yang cair dan hangat. William mengenang bagaimana Ibu Srimulat, pendiri grup kesenian yang menjadi cikal bakal grup lawak legendaris itu sering bertamu dan membawa seember daging babi sebagai buah tangan untuk diolah dan dimasak.
Seiring bertambahnya usia, kesehatan Wong See Hwa mulai menurun akibat asma yang dideritanya, memaksanya berhenti mengiringi lawatan Soekarno ke banyak tempat di luar negeri. Namun, gairahnya tidak padam. Ia mencurahkan obsesinya ke dunia film dengan cara yang hampir tidak rasional. Wong, menurut William adalah seorang yang fanatik soal film, meski saat itu industri film tidak begitu menguntungkan secara bisnis, dia rela menjual harta benda dan menghabiskan simpanan uang untuk memproduksi film. William mengingat, film Detik-Detik Revolusi (1959) adalah salah satu karya dari campur tangan ayahnya.
Dari keras kepala sang ayah itu, William belajar tentang keberanian mengambil risiko dan pentingnya soal menafsir filosofi komposisi fotografi. Ayahnya selalu menekankan bahwa pesan dalam foto hitam putih tidak akan pernah mati. Sebuah esensi batin yang kelak dibawa William ke dalam setiap bidang yang ia tekuni, mulai dari periklanan, penyiaran, hingga akhirnya memantapkan diri menapaki kaki dalam dunia kuliner dan gastronomi.
Wong See Hwa atau Soewadi Wongso, menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 1969, tak lama setelah William lulus SMA. Ada hal getir dan manis yang bercampur dalam ingatan William, ia mengandaikan jika ayahnya masih hidup, mungkin mereka akan sering bertengkar hebat karena sang ayah pasti akan memaksanya masuk dan menyelesaikan kuliah.
Namun, baik ayah maupun anak itu nyatanya mempunyai kesamaan sebagai lulusan akademi jalanan, yang tidak mengejar gelar akademis, melainkan belajar langsung dari manusia, teknis, dan kerasnya lapangan.
William Wirjaatmadja Wongso, yang sekarang dikenal sebagai diplomat rasa dan mengembara dari satu dapur ke dapur lainnya, dari satu pasar ke pasar tradisional berikutnya, dari satu negara ke negara lainnya itu adalah perpaduan adonan dari integritas baja ayahnya dan dukungan kesabaran ibunya. Menjadi semacam bukti bahwa warisan yang tak lekang zaman itu mewujud dari melatih ketajaman rasa dan menyemai benih integritas yang tidak bisa dikompromikan. Dengan rendah hati William mengaku, meskipun sudah banyak berkeliling hingga ke pelosok-pelosok negeri, yang dia tahu tentang kuliner Nusantara itu tidak sampai sepuluh persennya saja.
***
Daftar rujukan:
*Buku Cita Rasa Indonesia, Ekspresi Kuliner William Wongso, Penulis William Wongso 2018
*Satu Indonesia Bersama William Wongso Net TV edisi 7 Mei 2016, diakses 17 Februari 2026
*Siniar Djoernal Id: William Wongso There Are No Typical Indonesian Foods edisi 11 November 2025, diakses 17 Februari 2026
*Siniar KABARITV: Peranan dari Ayah William Wongso memberi ke Republik Indonesia edisi 15 Agustus 2020, diakses 16 Februari 2026
*William Wongso Pembela Keaslian Rasa Nusantara, Jeffrey Satria, Intisar.Grid.id, diakses 17 Februari 2026
*William Wongso: Sreng..Sreng..Jadilah Makanan Lezat, Majalah Bobo edisi 11 Juni 2009, diakses 17 Februari 2026