Letaknya berada di jantung Sudirman Central Business District. Kawasan di Jakarta yang sering disingkat menjadi SCBD. Ornamen gedung-gedung megah bertingkat yang tidak terhitung, sekaligus nama tempat yang memunculkan idiom “mas-mas dan mbak-mbak SCBD” untuk menunjukkan frasa pemuda-pemudi segar nan enerjik, berpenampilan menarik dan biasanya dilengkapi blazer, pantofel, atau high heels.
Tidak ketinggalan deretan beragam restoran atau café dengan menawarkan nuansa modernitas.
Namun ada satu yang menarik, berdiri satu kedai menawarkan masakan rumahan dengan pernak-pernik masa lalu, layaknya suasana rumah saat mudik atau berkunjung ke handai taulan di kampung halaman.
Terpampang teko dan gelas minuman bermotif hijau loreng atau blirik, di salah satu sudutnya juga tampak radio klasik nangkring dengan deretan menu yang terhidang.
Nasi Peda Pelangi (NPP), nama kedai yang sekaligus juga adalah nama menu andalan yang ditawarkan, tertata dalam piring seng beralas daun pisang.
Menu tersebut tampak disantap oleh beberapa kawan LFC (Lazy Susan Food Club), yang juga mempunyai agenda hajatan ngobrol-ngobrol soal beras baik di hari itu (26/10/2022). Jenis beras yang menjadi bahan nasi di kedai tersebut.
Tuan rumah sekaligus pemilik Nasi Peda Pelangi, Nadya Pratiwi, menyampaikan alasannya kenapa memilih beras baik dalam uraian awal membuka perbincangan.

Soal masa depan anak yang ingin sehat dan lebih baik, yang berangkat dari konsumsi makanan yang dipilih. Juga soal bagaimana beras baik, bukan hanya soal material padinya, namun juga tentang cara menanamnya, tanah untuk menyemainya, sekaligus menjadi perbicangan yang menguar di malam selepas SCBD semarak menyalakan lampu-lampu jalanannya.
Nadya menjelaskan menu rumahan kedainya sendiri berangkat dari menu masakan rumah ala ibunya, saat dulu kawan-kawannya sering datang untuk menyicip dan menjadi ketagihan;
“Dari dulu, Ibu suka banget masak, apalagi kalo masaknya tumis ikan peda, enak banget. Sampai temen-temen gue sering main ke rumah demi makan nasi peda ibu gue doang! Tapi dari situ, gue jadi mikir-mikir, pengen deh buka kedai yang ngejualin makanan ibu, karena ternyata ibu juga seneng banget kalo banyak yang suka masakannya!”
Dan kedai Nasi Peda Pelangi adalah wujud kecintaan Nadya kepada ibunya, beriringan dengan filosofi nama pelangi yang disematkan dalam nama menu masakannya. Sebuah alasan karena ada merah menyala dari cabai merah, kuning yang manis dari bulir jagung, sampai hijau terang dari cabai hijau.
Malam itu Nadya tidak sendiri, ada Dr. Nico Wanandy (seorang ilmuwan dan penggiat ekologi) yang menjabarkan dengan basis keilmuannya soal beras; dari soal teknis kimiawi hingga soal petani, benih, tanah, revolusi hijau, juga latar belakang politis tentang beras.

Pemaparannya juga meminjam filosofi tentang lukisan “The Garden of Earthly Delights” karya Hieronymus Bosch tentang 3 fase kehidupan di bumi.
Tak cukup, dirinya juga memberikan analisis masa depan dunia yang faktual dengan gambar animasi luapan ombak dari Graeme MacKay. Tentang fase-fase bencana yang akan dihadapi umat manusia dari serangan virus, resesi, perubahan iklim, hingga yang paling mengerikan tentang kepunahan keanekaragaman hayati.
Dr. Nico Wanandy, berhasil secara gamblang sebagai ilmuwan menyampaikan keprihatinan soal kerusakan alam di depan mata.
Namun ratapan dan penyesalan sepertinya bukan menjadi piliihan. Hal yang secara tegas diambil oleh Nadya dan Nasi Peda Pelangi-nya. Amunisi dengan sadar bahwa beras baiklah yang dipilih untuk dihidangkan menjadi perjuangan yang tidak gampang.
Secara spesifik, Nadya, bahkan menjelaskan awal membangun bisnisnya adalah semacam modal nekat, hal yang hanya diyakini berangkat dari niat baik, menggandeng petani baik yang mau menanam padinya dengan baik, dan berusaha menjaga tanah tetap baik tanpa campuran pupuk yang merusak.
Dan beras baik hadir ketika Nasi Peda Pelangi dan kumpulan para petani menyadari bahwa penggunaan bahan-bahan seperti pupuk yang merusak, juga otomatis akan merusak lahan yang berkepanjangan, dan ujungnya adalah merusak ekosistem.
Dari kondisi tersebut, tercipta gerakan kolaborasi Nasi Peda Pelangi dengan petani untuk menanam padi untuk terintegrasi dengan cara ramah lingkungan. Langkah kongkrit untuk mengembalikan kesuburan tanah dan air ke kondisi sejatinya.
Sehingga ekosistem dalam tanah tersebut dapat menghasilkan kualitas dan kuantitas padi yang baik tanpa harus terkena kontaminasi mineral yang merusak.
Setidaknya manfaat beras baik tadi mempunyai ciri-ciri; pulen, rendah indeks glikemiks, dan tidak cepat basi.
Malam semakin larut, perbincangan semakin hangat, dan jamu Mugiwa dengan komposisi temulawak, kunyit, sereh, selesai saya tenggak. Saya membatin, bahwa urusan baik tidak butuh hanya soal semangat. Hal sekecil yang bisa dilakukan akan menjadi bernilai.
Persoalan yang lain, bahwa tindakan kebaikan sering bisa dipastikan tidak sepenuhnya akan berjalan lancar.
Sehingga, komposisi niat baik dan kenekatan yang dilakukan Nadya dalam menghidangkan beras baik, sepertinya menjadi padanan rumus yang bisa ditiru, meskipun tidak baku. Dari beras baik, Nadya ingin masa depan dunia anaknya menjadi baik.
Dan kebaikan seringnya juga menjadi anomali, persis seperti Nasi Peda Pelangi; kedai kecil dengan piring seng, gelas blirik, dan menu masakan rumahan nostalgia, berdiri seperti menantang di tengah riuh himpitan menu modernitas SCBD.
***
Penulis: Husni Efendi
Header diambil dari Instagram @nasipedapelangi
Foto dokumentasi pribadi