Narasi

Ketan Susu Kemayoran, Sajian Merakyat Sejak 1958

Ketan Susu Kemayoran, Sajian Merakyat Sejak 1958

Area Kemayoran tidak saja identik dengan Jakarta Fair, di sini juga menyimpan kuliner khas berbahan ketan dengan taburan parutan kelapa, dan dipermanis dengan tetesan susu kental kalengan. Dan ditemani beberapa kudapan gorengan seperti tempe, pisang goreng, ubi dan singkong goreng.

Bertajuk Ketan Susu Kemayoran, atau beberapa orang menyebutnya dengan “Tansu”

Kedai Tansu Kemayoran ini terletak di Jalan Garuda Ujung, Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekitar satu kilometer dari Stasiun Kereta Api Kemayoran.

Awalnya, kedai ketan susu ini dirintis oleh Haji Sukrad pada tahun 1958. Dulu pun belum disebut sebagai tansu. Awal mula, kuliner ini dinamakan ketan kobok. Karena dulunya, ada kobokan yang juga disediakan untuk mereka yang makan dengan tanpa alat makan. Namun sekarang, paket ketan susunya sudah dilengkapi dengan sendok kecil.

Hingga semenjak tahun 2000-an, akrab menjadi tansu, karena banyak permintaan pelanggan minta pakai susu dalam sajian ketannya.

Kami banyak pula berbincang dengan Samuel, generasi ketiga Ketan Susu Kemayoran ini, sembari dirinya terus sibuk melayani pelanggan, yang seperti tidak pernah berhenti. Dari yang makan di tempat hingga yang dipesan puluhan bungkus untuk dibawa pulang.

Kedai yang sudah layak dianggap sebagai kuliner legendaris ini tidak pernah sepi pengunjung. Tansu Kemayoran buka selama 24 jam. Dan Samuel mengungkapkan, biasanya pelanggan ramai saat akhir pekan dan hari libur.

Menu andalan yang disajikan adalah ketan original, ketan kelapa, atau ketan susu. Selain itu, ada beberapa jenis menu gorengan sebagai pelengkap, antara lain pisang goreng, ubi, singkong, dan tempe. Selain makanan, kedai tersebut juga menyediakan berbagai minuman seperti kopi, teh manis, dan teh poci.

Yang juga menarik di sini adalah sajian teh poci, seduhan teh yang disajikan dalam teko yang terbuat dari tanah liat, khas sajian dari area Tegal sana. Tipikal teh tubruk, yang disajikan dengan menggunakan poci. Gulanya juga dipisah, di taruh di gelas, atau juga bisa dipesan dengan tanpai memakai gula.

Jenis teh ini akrab disebut wasgithel: perpaduan wangi, sepet, legi (manis), dan kenthel (kental).

Tansu Kemayoran melegenda dan selalu ramai, karena mungkin justru mempertahankan kesederhanaannya. Sederhana kedainya, sederhana makanan dan minumannya. Bagaimana tidak, menu utamanya  hanya ketan yang bertabur parutan kelapa dan  susu. Dan jika masih kurang bisa ditambahkan gorengan. Bahkan untuk beberapa orang pun merasa sebagai menu yang tidak biasa, makan ketan ditemani gorengan. Tapi itulah khasnya. Sajian asin, manis dan gurih bercampur menjadi satu.

Untuk kami, saat menyecap dan mengunyahnya, tekstur ketannya pun matangnya terasa pas, tidak benyek, tidak pula terlalu kering, pulen, dan parutan kelapanya yang tidak pelit, membawa sensasi “kemrenyes” di dalam mulut.

Yang menjadi pemandanga menarik di sini juga adalah gorengan, khususnya tempenya, setiap selesai ditumpahkan ke atas wadah penyajian, habisnya relatif cepat. Nyaris, bahkan saat berubah menjadi dingin, gorengan tempenya sudah selalu raib.

Di sini selain ketan susunya, gorengan tempenya memang menjadi incaran yang banyak diserbu pengunjung. Tempe goreng berpentuk kotak tebal, tanpa baluran tepung, digoreng dengan polosan, disajikan hangat-hangat, dan saat digigit, gurihnya pas di mulut, luarnya garing, dan dalamnya lembut, yang saat terbelah ketika memakannya, masih menyisakan asap tipis yang menguar dari bongkahan kedelainya.

Makanan dan minuman yang kami pesan adalah: dua porsi ketan, lima gorengan, satu es es jeruk, satu teh poci, satu es teh tawar, totalnya adalah Rp31.000,-

Cukup murah bukan?

Mari makan, rasakan, dengarkan, dan ceritakan.

Post Comment