Nasi Ulam sebagai salah satu kuliner khas Betawi, menurut legenda kuliner tanah air Bondan Winarno, bisa dikatakan lebih otentik dibanding nasi uduk. Alasan Bondan, merujuk kepada bukti literasi dalam roman Si Doel Anak Betawi, yang ditulis Aman Datuk Madjoindo, pada tahun 1932. Disebutkan bahwa si Doel kecil membantu emaknya berjualan nasi ulam di daerah Jagamonyet, yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Harmoni.
Keberadaan nasi ulam pun sekarang terbilang tidak banyak, setidaknya jika dibandingkan nasi uduk. Di antara yang sedikit, legendaris, dan mulai langka itu adalah Nasi Ulam Misdjaya, yang sudah berjualan sejak tahun 1963.
Nasi Ulam Misdjaya ini juga sekaligus direkomendasikan Bondan Winarno, dalam buku 100 Maknyus Jakarta. Berlokasi di area Pecinan Jakarta, Jl. Kemenangan, Glodok, Jakarta Barat. Sebagai salah satu penandanya, Nasi Ulam Misdjaya ini berada di dekat Klenteng Toasebio.
Sambil menjajal nasi ulam legendaris ini, kami sekalian berbincang dengan Bang Boim, generasi kedua Nasi Ulam Misdjaya, yang tangannya tampak selalu sibuk membuatkan pesanan pelanggan, baik yang makan di tempat ataupun yang dibungkus.
Rekomendasi jika datang ke sini, lebih baik menggunakan moda transportasi umum, dan kemudian berjalan kaki, sekalian memanjakan mata deretan kuliner yang dijajakan di sepanjang jalannya setelah memasuki gerbang besar “Chinatown Jakarta”.
Jika dulu letaknya berada persis di depan Klenteng Toasebio, kini Nasi Ulam Misdjaya ini sedikit bergeser ke seberangnya, menempati sebuah ruko yang berbagi ruang dengan penjual buah.
Saat pesanan kami datang, seketika terlihat satu porsi nasi ulam yang porsinya banyak dan padat, dengan tambahan semur telur, ditambah dendeng sapi, yang juga menjadi andalannya. Tampak riuh dalam satu piring, yang juga berisikan bihun goreng, taburan kacang tumbuk, bawang goreng, campuran kerupuk dan emping, daun kemangi, mentimun, dan tidak lupa kuahnya yang menyatukan dan mengguyur semuanya.
Saat mencobanya, nasinya cukup terasa pulen, selain itu untuk dendengnya terasa legit, tidak keras saat digigit dengan rasa manis pedas. Tumbukan kacangnya yang terasa lumer dari kuahnya, membawa sensasi krenyes-krenyes. Telur pindangnya bukan tipikal yang berwarna pekat ala sajian gudeg, lebih terasa ringan.
Sementara untuk kuahnya adalah kuah semur berwarna cokelat yang juga tidak terlalu pekat, dan menyuguhkan rasa yang tidak berat.
Sebagai tambahan wajib lainnya, diaduk dan dicampur dengan sambal kacang encer yang disediakan.
Lalu kehadiran mentimun dan daun kemangi, menyuguhkan kesegaran dan seperti berperan sebagai penetralisir rasa, dengan kontribusi wangi kemanginya terasa menjadi pas di antara keroyokan kawanan nasi ulam dan pengiringnya.
Jika masih kurang pun, beberapa lauk juga bisa dimasukkan ke dalam piring, sebab tersedia pilihan telur dadar, perkedel, cumi, dan tempe goreng.
Menikmati Nasi Ulam Misdjaya dengan tambahan telur pindang, dan dendeng sapi, plus porsi yang kami rasakan banyak ini, cukup kami bayar dengan harga Rp25.000,- rupiah. Sementara untuk memesan minum dengan pilihan es jeruk, es kelapa, ataupun es teh, bisa dipesan terpisah dari warung sebelah.
Mari makan, rasakan, dengarkan, dan ceritakan.