Kami mengunjungi salah satu soto Padang legendaris di kawasan Tanah Abang, yang bernama Soto Padang H Bang Karto. Lokasinya terletak di Jl. KH Mas No.25A, Kebon. Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Patokan mudahnya adalah kedai ini berada di dalam kawasan rumah susun Perumnas Tanah Abang. Kedainya tidak terlalu besar, namun cukup nyaman.
Soto Padang ini adalah cabang dari Soto Padang H Bang Karto, yang ada di Bukititinggi, yang sudah ada sejak tahun 1948, dan kemudian melebarkan sayap di Jakarta sejak tahun 1990-an.
Kami berbincang dengan Ibu Dewi Suryaningsih, sebagai owner Soto Padang H Bang Karto yang di Jakarta. Ibu Dewi menjelaskan, dulu awalnya berjualan soto di Bukittinggi, di mana dimulai oleh kakeknya yang menjajakannya dengan dipikul.
Salah satu ciri khas soto Padang jika di tempat asalnya, menurutnya, sotonya sudah langsung dicampur dengan nasi. Namun demikian saat di Jakarta, penyajiannya jadi dipisah dengan nasi.
Penampakannya, sekilas seperti soto Kudus yang disuguhkan dengan mangkok khas, dan terlihat sebagai mahzab soto bening. Isian sotonya terdiri dari soun, perkedel, dan keratan daging sapi, taburan daun seledri dan bawang goreng, dan dipungkasi dengan pugasan kerupuk merah khas Padang. Kuahnya menguar dan meninggalkan aroma khas dari wangi campuran sumsum tulang sapi.
Menurut Ibu Dewi, di sini yang makan kebanyakan adalah mereka yang seumuran dengan dirinya, atau ayahnya, dan membawa serta keluarga mereka untuk santap bersama. Dan rata-rata mereka yang datang adalah yang mempunyai ikatan darah Minang, atau tumbuh besar di Bukittinggi.
Masih menurut Ibu Dewi, mereka yang tumbuh besar di Bukittinggi, biasanya saat akhir pekan diajak ke Pasar Atas Bukittinggi oleh orang tuanya, untuk berbelanja dan kemudian salah salah satunya kemudian menyantap soto khas dari Bukititinggi. Dan itu kemudian menumbuhkan memori saat mereka besar dan merantau, untuk klangenan menyantap soto ala Bukittinggi.
Soto Padang H Bang Karto sendiri, saat ini ada satu di Bukittinggi, dan satu lagi ada di Jakarta, di tempat yang sedang kami sambangi. Untuk beberapa bahan yang dipakai memasak, juga masih didatangkan dari Bukittinggi, seperti mie pipih untuk bahan mie tahu, yang juga menjadi salah satu menu andalan di sini selain sotonya. Selain itu, ada juga nasi goreng khas Padang yang bisa disantap, jika sedang tidak menginginkan santapan yang berkuah.
Di sini rata-rata untuk soto, dalam sehari bisa menghabiskan 8 kg daging sapi, dan menurut Ibu Dewi, jumlah itu sudah jauh berkurang jika dibandingkan dulu sebelum masa pandemi. Bu Dewi anak kedua dari empat bersaudara itu mengisahkan, efek dari pandemi ini juga masih terasa sampai sekarang. Karyawan yang dulu membantunya ada 10 orang, sekarang pasca pandemi, dirinya hanya bisa memperkerjakan 5 orang.
Saat kami menyecapnya, kuah sotonya terasa segar, dan terbilang light, dengan isiannya cukup banyak. Pembeda Soto H Bang Karto dengan soto Padang pada umumnya adalah tekstur dagingnya yang basah, bukan kering seperti soto Padang pada umumnya, karena melalui tahap digoreng dulu. Kelebihan dari tekstur basah ini adalah, dagingnya yang masih bisa dirasakan, saat dikunyah.
Di sini juga tersedia teh talua khas Padang, dan disediakan pula ketan dengan taburan parutan kelapa yang dimakan dengan pisang goreng, yang biasanya dijadikan sarapan di wilayah Bukittinggi. Total harga hidangan yang kami santap, seporsi soto, ditambah kerupuk balado, ketan urap, pisang goreng, dan beberapa gelas es teh tawar adalah Rp67.000,-
Mari makan, rasakan, dengarkan, dan ceritakan.